Palembang, newshanter.com – Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ustadz H Mustafa Kamal menginisiasi kegiatan Bersih Indah Sehat dan Aman (BISA) bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif bertempat di Pondok Pesantren Paradise Talang Jambe Palembang, Senin (28/2/2022).
Dikatakan Ustadz Kamal, tempat ini sudah berkah, sebelum ada apa-apa, kenapa demikian, dari namanya saja itu sudah mendatangkan keberkahan.
Dan memang momentumnya ada di wisata religi, saya kira para kompeten di pondok pesantren Kiai Marogan, dengan kawasan yang terbuka ini, ada rawanya, ada rumah tradisional, dan ada sedikit sungai yang mengalir, ini justru yang harus dipelihara.
“Saya berharap tidak ditimbun semua, ada rawa-rawa yang tidak dipelihara, ada ikannya juga disana, banyak ikan disana, ada rumah-rumah lain, dan rumah-rumah pondok yang kita datangkan kesini,” ujarnya.
Kemudian, mohon doanya para budayawan sudah bekerja bahkan dari zaman Orde Baru (Orba) sebetulnya untuk menyadarkan tentang satu situs yang bersejarah yakni Benteng Kuto Besak yang menjadi kebanggaan Nasional.
“Karena itu adalah buatan anak bangsa, dan pernah terjadi peristiwa yang sangat bersejarah, dimana rakyat Palembang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II itu memberikan perlawanan yang dahsyat kepada penjajah Belanda,” ungkapnya.
Dilanjutkannya, bukan hanya di tanah Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, yang terjadi di provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) di kota Palembang sama dahsyatnya.
Karenanya kemudian perlakuan Belanda terhadap Sultan Mahmud Badaruddin II itu sama persis dengan perlakuan dengan Pangeran Diponegoro, dibuang dua kali, sama-sama dibuang dua kali.
“Zuriatnya dihabisi tidak boleh lagi ada yang mengaku sebagai keturunannya, sama saking takutnya karena perlawanannya begitu dahsyat, oleh itu sejarah militer di Indonesia,” katanya.
Masih disampaikannya, sekarang ini khasanahnya banyak di Jawa dengan perang Diponegoro, yang kemudian mengilhami perang Gerilya, doktrin militer Indonesia, padahal disini juga ada.
Cuma kita masih perlu kerja keras untuk membangkitkan kembali sejarah ini. Momentumnya adalah kalau Benteng Kuto Besak ini tidak usah lagi kita bingung dengan berbagai peraturan Perundangan, dengan perizinan, prosedur, prosedur bangunan, kita usah sibuk lagi untuk itu.
“Ini semata-mata TNI yang memang wajar mempunyai sejarah militer, dan melestarikan sejarah militernya,” bebernya.
Masih dilanjutkannya, membuka Benteng Kuto Besak tentu dengan ada renovasi, perbaikan, begitu dengan konsultasi dengan Balai Arkeologi, dan dengan Arkeolog, supaya tetap terjaga bangunan yang ada.
Kita rawat betul, ada story tellingnya, masyarakat diberikan akses, untuk melihat kekayaan sejarah militer di Indonesia itu Diffren Story yang dikelola bersama dengan melibatkan berbagai pihak.
“Tentu saja Kementerian Pertahanan Republik Indonesia yang bertanggung jawab secara formal keberadaan daripada Benteng Kuto Besak,” jelasnya.
Ditambahkannya, tetapi memberikan akses kepada masyarakat sebagai bagian dari wisata sejarah khususnya sejarah militer di Indonesia.
Masyarakat kalau Benteng Kuto Besak bukan sekedar wisata, itu seperti berziarah, seperti mengingat kembali puyang kita, mengingat kembali pahlawan kita.
Jadi itu nilainya lebih daripada wisata biasa yang sifatnya rekreatif, ya tapi wisata sejarah.
“Dan mempunyai makna yang akan membangkitkan nasionalisme di Indonesia, jadi jangan main-main ini, jangan dikira biasa-biasa saja dampaknya, karena dampaknya akan lebih besar,” tegasnya.(ton)





