Jalan Terjal Efran : Gagal Jadi Kades sampai Ketua IWO Sumsel

Palembang, newshanter.com – Riuh redam suara peserta Musyawarah Bersama Wilayah (Mubeswil) ke-1 tahun 2023, Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumatera Selatan (Sumsel) memenuhi ruangan aula Hotel Luminor Palembang, Minggu, sore sekitar pukul 16.30 WIB. Suasana agak mereda, ketika kemudian Awan Asmara, pimpinan sidang pleno Mubeswil kali itu, memberi arahan kepada para peserta.

“Mohon perhatian kawan-kawan! Sebelum kita tutup acara ini, kita bacakan dulu surat ketetapan hasil pemilihan dan berita acaranya. Mohon perhatiannya sebentar!” ujar Awan didampingi para pimpinan sidang lain dan notulen Mubeswil ke-1 tahun 2023 IWO Sumsel.

Tiga kali ketukan palu pimpinan sidang, memaksa para peserta Mubeswil IWO Sumsel kali itu harus menahan diri, untuk diam sejenak dan mengalihkan perhatiannya ke arah pimpinan sidang. Tapi sebagian lagi, ada juga yang memilih keluar dengan keperluan berbeda-beda.

Suasana pun mulai redam, Awan Asmara kemudian membacakan berita acara ketetapan hasil pemilihan calon Ketua IWO Sumsel periode 2022-2023. Pada berita acara itu, menetapkan Efran, Ketua IWO Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), resmi terpilih sebagai Ketua IWO Sumsel periode 2022-2027.

Dari 73 kertas suara yang disiapkan panitia, ada 4 kertas suara abstain. Praktis hanya 69 kertas suara yang dinyatakan sah oleh panitia Mubeswil ke-1 tahun 2023 IWO Sumsel. Efran yang tagline di flyer-nya “cito-cito wong daerah nak ke kota” ternyata bukan isapan jempol.

Putra asli Kabupaten PALI Sumsel ini, cita-citanya kesampaian masuk Kota Palembang, setelah dalam kompetisi calon ketua IWO Sumsel 2022-2027, Efran berhasil memperoleh 39 suara, menggungguli rivalnya, Ardhy Fitriansyah (Bendahara IWO Sumsel), yang memperoleh 30 suara.

Penetapan ketua baru IWO Sumsel periode 2022-2027, sekaligus mengakhiri perhelatan politik internal di organisasi itu. Sebagaimana disebutkan dalam surat ketetapan dan berita acara hasil Mubeswil ke-1 2023 IWO Sumsel, Efran, sebagai ketua terpilih bersama tim formatur yang diputuskan melalui sidang pleno, harus segera menyusun komposisi kepengurusan IWO Sumsel periode 2022-2023 dalam 30 hari ke depan.

Bukan datang tiba-tiba, kemenangan Efran yang kini telah resmi menjadi Ketua IWO Sumsel yang baru, tak datang tiba-tiba. Proses panjang telah dijalani Ketua IWO PALI ini, jauh sebelum dirinya memutuskan mencalonkan diri sebagai calon Ketua IWO Sumsel.

“Sekitar satu tahun sebelum pemilihan, saya melakukan kunjungan ke kawan-kawan IWO di daerah. Saya silaturahim dengan mereka, dan minta pendapat juga masukan ide tentang kemungkinan saya akan mencalonkan diri sebagai calon ketua IWO Sumsel.

Alhamdulillah hasilnya positif, meski diantaranya juga tidak berkomentar tentang niat saya waktu itu,” ujarnya, ketika dibincangi usai acara, Minggu (28 Mei 2023), sore.

Di hadapan wartawan, Efran menyatakan, kemenangan ini bukan karena dirinya hebat dan pintar. Bukan pula karena paparan visi dan misi yang telah disampaikan 30 menit sebelum pemilihan berlangsung.

Tetapi Efran memastikan, kemenangannya adalah kemenangan bersama. Semua ketentuan hari ini yang datang adalah skenario Allah yang telah mentakdirkan dirinya menjadi ketua IWO Sumsel periode 2022-2027.

“Saya tidak merasa hebat, dan saya tidak pintar, semua karena keputusan Allah SWT. Amanah kawan-kawan kepada saya, ini karena skenario Allah. Terima kasih kepada kawan-kawan pendukung, panitia, tim Steering Committee dan Organization Committee yang sudah bekerja siang dan malam demi menyukseskan acara ini,” ujarnya saat memberi keterangan pers.

Jalan terjal berliku sebuah kata bijak mengatakan, hasil tak akan mengkhianati proses. Mungkin kalimat ini tepat dipadankan pada perjalanan Efran, ketika kini Allah SWT mentakdirkan dirinya menjadi Ketua IWO Sumsel periode 2022-2027.

Sebab, pahit getir perjalanan hidup Efran yang sudah dirasakan, ketika itu sangat berkait erat dengan pemenuhan keseharian keluarganya. Tahun 1997, usai menyelesaikan studinya di SMA di PALI, Efran harus bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang.

Perjuangan dirinya untuk bisa bertahan hidup, putra pertama dari pasangan Arif Hidayatullah asal Kota Serang, Banten dan almarhumah Rustinah asal Pendopo PALI ini, di tahun 1997 harus merelakan diri membanting tulang dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Sebagai pekerja, Efran sadar betul kali itu dia harus ikut dan tunduk pada sistem yang sudah berjalan secara sistematis. Pergi pagi pulang sore sesuai jadwal. Atau sesekali malam, atau berangkat sore pulang pagi, mengikuti ritme dan aturan perusahaan.(ton)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *