BANYUASIN -Newshanter.com- Tiga pelaku pembunuhan terhadap Tasir dan empat keluarganya , mayat mereka ditemukan hanyut di sungai Desa Indrapura Kecamatan Muara Air Sugihan beberapa hari lalu, berhasil diringkus polisi, Mereka adalah P (Purwanto) (22) warga Desa Tirta Kencana Kecamatan Makarti Jaya, Ak (Abdul Kohar alias Adul alias Ecep (19) warga Desa Tirta Kencana dan NM (Nendi Mulyana) (17) warga Desa Tirta Kencana.
Menurut keterangan di kepolisian pengungkapan pelaku ini berawal saat polisi meminta informasi dari warga sekitar terkait penemuan mayat yang terjadi 4 hari beruntun sejak Jumat (13/5) sampai dengan Senin (16/5) di daerah perairan jalur. Polisi berhasil menangkap salah satu pelaku AK (Abdul Kohar alias Adul alias Ecep) pada Kamis (19/5/2016) sekitar pukul 00.00 WIB di rumahnya Desa Tirta Kencana Kecamatan Makarti Jaya. Lalu kemudian setelah mengembangkan kasus, Sabtu (21/5/2016) kembali ditangkap P (Purwanto) dan NM (Nendi Mulyana) di Desa Sungai Kelambu atau Sungai Pupuk.
“Iya 3 pelaku sudah kita ringkus. Ketiganya merupakan para eksekutor, sedangkan dua pelaku masih dalam pengejaran yang salah satunya inisial AM (Ahmad Mubarok) merupakan otak pelaku,” ujar Kapolres Banyuasin AKBP Prasetyo Rahmad Purboyo SIK MH didampingi Humas Polda Sumsel Kombespol Djarod Padakova.
Kronologis kasus tersebut berawal saat warga Muara Sugihan menemukan dua mayat yang dibungkus dalam karung mengapung di sungai pada Jumat (13/5/2016) pukul 11.00 WIB. Lalu pada Sabtu (14/5/2016) kembali warga menemukan mayat mengapung di sungai namun tidak terbungkus karung hanya saja kepala dibungkus menggunakan kaos.
“Saat itu kita langsung mengira mayat tersebut pasti ada keterkaitan dengan mayat sebelumnya. Dan kita langsung koordinasi dengan Kades dan warga setempat agar segera menginformasikan jika ada warganya yang hilang,” ujar Kapolres Banyuasin AKBP Prasetyo Rahmad Purboyo SIK MH.
Pihaknya juga meminta pada RT maupun RW agar mengecek keluarga disamping rumah masing-masing, mungkin saja ada yang hilang. Lalu pada Minggu (18/5/2016) sekitar pukul 11.00 WIB polisi kembali dikejutkan dengan penemuan mayat anak-anak berumur 6 tahun mengapung di sungai di daerah Muara Sugihan. Kepala mayat dibungkus dengan kaos dan telah membusuk.
“Saat itulah kita mulai curiga mayat-mayat tersebut merupakan satu keluarga. Setelah kita koordinasi dengan perangkat desa di daerah tersebut pada sore harinya sekitar pukul 18.00 WIB ada salah satu warga melaporkan satu keluarganya yang berjumlah 5 orang hilang sejak Rabu (11/5/2016),” ungkapnya.
Mayat-mayat tersebut sebelumnya telah dibawa ke Rumah Sakit Bayangkara Palembang. Saat mengetahui ada satu keluarga yang hilang lalu polisi membawa warga yang melapor itu untuk mengecek langsung ke rumah sakit menyamakan ciri-ciri keluarganya dengan mayat yang ditemukan.
“Ternyata keterangan salah satu keluarganya itu ternyata benar bahwa mayat-mayat tersebut memang keluarganya yang telah hilang sejak Rabu dengan mengenali ciri-ciri baju yang dikenakan,” ungkapnya.
Lalu dari sanalah polisi mulai mengecek ke TKP yakni dirumah keluarga Tasir dengan mendatangkan tim forensik. Saat itu banyak ditemukan bercak darah baik di kamar tidur maupun di ruang tamu.
“Kita lakukan olah TKP dan ternyata benar di rumah korban ditemukan bekas tanda-tanda kekerasan yang diduga dialami korban,” ujarnya.
Lalu pada Senin (19/5/2016) warga kembali menemukan mayat keluarga Tasir yang diketahui bernama Kartini merupakan anak Tasir. Ini diketahui saat penemuan salah satu keluarganya mengenali mayat tersebut.
“Setelah ditemukan mayat ke lima kita semakin yakin bahwa yang menjadi korban pembantaian itu merupakan keluarga Tasir warga Desa Indrapura,” katanya.
Setelah diketahui bahwa 5 mayat tersebut merupakan keluarga Tasir, lalu jajaran Polres Banyuasin diback up Polda Sumsel terus melalukan olah TKP dan meminta keterangan saksi-saksi dan keluarga korban. Menurut cerita korban, Tasir sebelumnya terlibat masalah jual beli tanah dengan salah satu pelaku yang bernama Agus Mubarok yang tercatat sebagai warga Desa Siderejo Kecamatan Muara Padang. Tasir yang ingin membeli tanah Agus Mubarok tidak jadi karena tanah tersebut tidak memiliki dokumen.
“Keluarga Tasir cerita bahwa sebelum kejadian, korban terlibat masalah jual beli tanah dengan Agus Mubarok karena tanah yang dijual AM tidak bersurat jadi Tasir tidak mau,” terang polisi.
Saat itulah berdasarkan keterangan saksi-saksi diyakini kelompok Agus Mubarok lah pelaku pembantaian itu. Apalagi saat dicari AM tidak ada di rumahnya dan menghilang tanpa jejak.
“Kita terus cari AM dan pelaku lainnya berdasarkan keterangan saksi-saksi,” tambah Humas Polda Sumsel Kombes Pol Djarot Padakova.
Barulah pada Kamis malam (19/5/2016) sekitar pukul 00.00 WIB polisi berhasil meringkus salah satu tersangka Abdul Kohar alias Adul alias Ecep sedang tidur di rumahnya di desa Tirta Kencana Kecamatan Makarti Jaya.
Lalu setelah memeriksa Abdul Kohar, disusul tertangkapnya 2 pelaku lain Purwanto dan Nendi Mulyana yang juga warga Desa Tirta Kencana Kecamatan Makarti Jaya pada Sabtu (21/5/2016) saat berada di daerah Sungai Kelambu atau Sungai Pupuk.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, pembunuhan tersebut diawali dengan modus para pelaku ingin merampok uang Tasir. Selain itu pelaku dengan dalih ingin menyelesaikan masalah Tasir dengan pelaku Agus Mubarok.
“Jadi otak perencananya ini merupakan Agus Mubarok yang hingga kini masih buron. Agus mengajak teman-temannya ini dengan iming-iming sejumlah uang jika berhasil membunuh Tasir dan keluarganya,” ujarnya.
Awal pembantaian itu Agus Mubarok berjanji akan menyelesaikan permasalahan uang jual beli tanah dengan Tasir pada Kamis (14/5/2016), namun sebelum hari itu, Agus Mubarok telah merencanakan pembunuhan keluarga Tasir.
Lalu pada Rabu (13/5/2016), Agus Mubarok mengajak 4 pelaku lainnya Purwanto, Abdul Kohar /Adul, Nendi Mulyana dan satu pelaku lainnya Uuk untuk merampok Tasir yang dikira masih memiliki sisa uang hasil menjual rumah di Palembang.
“Jadi AM ini mengajak pelaku lainnya untuk membunuh Tasir dan keluarganya dengan iming-iming sejumlah uang. Lalu pada Rabu malam terjadilah eksekusi itu,” jelas Djarot. (SP)





