Pengamat: Video Kampanye Ahok Tendensius dan tak Pantas

JAKARTA.Newshanter.com — Pengamat politik dari Universitas Parahyangan, Asep Warlan Yusuf, mengatakan, video kampanye pasangan Ajok-Djarot yang bertemakan keberagaman dinilai tendensius dan tidak pantas dipakai untuk kampanye.

“Kalau diniatkan untuk kampanye itu tendensius. Seolah-olah pihak lawan (Anies-Sandi) itu adalah orang yang anti-Cina dan penuh dengan kekerasan,” ujar Warlan saat dihubungi Republika.co.id, Senin (10/4/2017).

Video kampanye Ahok-Djarot yang bertemakan keberagaman tersebut berdurasi 5:33 menit. Di adegan awal video hingga detik ke-40 memperlihatkan adegan ibu dan anak yang merasa terancam, dengan massa aksi demo.

Lalu, pada menit 2:55, adegan tersebut kembali diulang. Kemudian menunjukkan adegan orang-orang sedang aksi (demo) dengan berpakaian koko putih, memakai serban, dan peci, sambil membawa spanduk ‘Ganyang Cina’.

Warlan mengatakan, walaupun dalam konten video tersebut yang ditunjukkan adalah massa dari ormas Islam tertentu, sebetulnya konten tersebut menyindir lawan kampanye. Sehingga perlu dipahami secara proporsional, kata dia, jangan sampai membuat video atau konten yang membuat viral lagi dan menyebabkan keributan di masyarakat.

“Arti kampanye itu kan meyakinkan publik. Jadi video ini memang ditunjukkan untuk lawannya. Untuk membentuk opini masyarakat tentang lawannya (Anies-Sandi), seolah-olah pasangan nomor tiga itu penuh dengan kekerasan, dan banyak didukung oleh orang yang keras,” kata Warlan.

Dia menegaskan, jika video ini diklaim berdasarkan fakta atau realitas di lapangan maka harus dipahami bahwa suasana sekarang sedang dalam suasana pilkada. “Sebaiknya hindari cara kampanye tendensius seperti itu, yang sehat-sehat saja, yang wajar. Misalnya, argumentasi program,” katanya.

Anthony Leong akan melaporkan video Ahok-Djarot

Sementara itu Ketua Perkumpulan Indo Digital Volunteer, Anthony Leong akan melaporkan video Ahok-Djarot yang berdurasi dua menit ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Tema yang diangkat soal keberagaman dianggap Anthony merupakan sebuah potret yang melecehkan Presiden Jokowi karena tidak mampu menjaga stabilitas dan keamanan Indonesia.

“Video ini parah, ini sebuah isu yang melecehan Presiden Jokowi karena dianggap tidak mampu menjaga keamanan dan stabilitas politik. Kampanye yang digaungkan itu bukan lagi keberagaman, ini pelecehan terhadap masyarakat yang dianggap selalu punya watak kekerasan, pelecehan terhadap akal sehat kita sebagai manusia biasa dan pelecehan terhadap sistem demokrasi Indonesia,” ujar Anthony dalam siaran persnya, Ahad, (09/04/2017).

Video yang diupload di kanal resmi media sosial Ahok menggunakan tagar #BeragamItuBasukiDjarot. Anthony menyebut video itu tak diluncurkan dalam momentum yang tepat sebab keberagaman Indonesia itu sebuah fakta yang memang melekat. Keberagaman itu sudah fakta, tidak perlu terus dilontarkan.

“Video ini seakan-akan Jakarta belum siap menerima keberagaman. Saya sendiri sangat tidak terima dengan iklan video tersebut. Kami lagi mengkaji dan mempersiapkan laporan ini ke KPI,” terang Anthony.

Video itu, ujar dia, sebagai hal yang kontradiktif karena Ahok selama ini mengumbar kedamaian, kebhinekaan dan Pancasila. Namun justru video itu menampilkan berbagai visual yang mencekam. “Dalam perspektif pesan komunikasi, visual-visual, dan gambar itu mengirim sebuah makna teror,” kata Anthony.

(rol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *