Ketua Dewan Pers Siaran Live Penangkapan teroris dapat mengagalkan Recana kepolisian

Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prsetyo/ goto NHO Zainal piliang
Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prsetyo/ goto NHO Zainal piliang

PALEMBANG,Newshanter.com,- Ketua Dewan Pers Yoseph Adi Prsetyo, yang tampil sebagai pembicara dalam acara Disemasi Pedoman Peliputan Terorisme Dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers Dalam Meliputi Isu Isu Terorisme di Ballroom Hotel Grand Duta Palembang. Kamis (27/10/2016) mengatakan Siaran langsung penangkapan teroris dapat mengagalkan apa yang sudah direncanakan oleh pihak kepolisian.

.Menurut ketua Dewan Pers yang dilantik Maret 2016 lalu ini mengantikan Bagir Manan , seharusnya televisi hanya menyiarkan secara tidak langsung ketika penangkapan teroris. Namun kebanyakan media televisi menyiarkan secara langsung “Ketika operasinya sudah berhasil dan pelakunya sudah ditangkap baru boleh disiarkan langsung tapi yang di tayangkan yang siaran tundanya. Disitu media bisa menceritakan proses detik-detik ketika terjadi penyergapan dan seterusnya,” jelasnya.

Dikatakannya, dengan adanya siaran langsung, jelas akan membahayakan keselamatan jiwa dari wartawan tersebut. Jelas ini melanggar butir pedoman peliputan terorisme yang sudah di sepakati pada akhir Febuari tahun 2015.Yosehp menambahkan, setelah melalui berbagai macam diskusi dengan insan pers serta para konstituen dewan pers, akhirnya pada Februari 2015 pihaknya mengesahkan 13 butir pedoman peliputan terorisme.

“Salah satu butirnya yakni mengenai keselamatan wartawan. Ini harus menjadi hal yang diutamakan dibandingkan hal yang lainnya. Ada juga yang kedua yakni dilarang melakukan klarifikasi terhadap para pelaku terorisme, karena sering kali pada saat liputan malah memberikan simpati dan support terhadap pelaku-pelaku terorisme,” terangnya.

Yoseph menegaskan, bagi yang tidak mengindahkan MoU pedoman ini, pihaknya akan memberikan teguran. “Pemberian sanksi itu dikatakan teguran khususnya kepada dewan pers, tetapi hukumannya disampaikan kepada wartawan oleh pemilik media tempatnya bekerja atau organisasi wartawan tempat wartawan bernaung,” ujarnya.

Acara ini ibuka wakil gubernur sumsel Ihak Mekki diikuti sekitar 150 para JUrnalis dari media cetak, online dan elokronik. Ishak Mekki dalam sambutannya mengatan, Informasi mengenai terorisme yang terjadi baik nasional maupun internasional sangatlah penting, oleh karena itu bagaimana menyamakan persepsi memberitakan sesuai dengan kode etik jurnalistik

Masalah terorisme adalah masalah Ideologi. Pendiri negara menginginkan demokrasi tetapi dibeberapa wilayah tidak sefaham dengan itu.“Negara yang mempunyai pemerintahan yang lemah akan menimbulkan kelompok radikal,” jelasnya.

Ia mengatakan, mengatasi teroris adalah tugas bersama, semua lapisan masyarakat tidak hanya BNPT, Polisi, TNI.“Jurnalis sangat berperan dalam menyampaikan informasi terkait terorisme. Jangan sampai menyebarkan informasi dari kelompok radikal atau memberikan informasi yang memancing timbulnya kelompok radikal,” pungkasnya.

Acara ini digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sumsel.Dengan pembicara Dewan Pers, BNPT, Pimred Tribun Sumsel Hj Weni Ramdiastuti, Polda Sumsel. Diikuti sekitar 150 para JUrnalis dari media cetak, online.pers kampus dan elokronik. (zainal piliang)

perspers3

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *