Jejak Perjalanan Spiritual: Dari Terminal ke Suryalaya, Kisah Tak Terduga Bersama Abah Anom

Oplus_16908288

Palembang, newshanter.com – Diawali pada bulan suci Ramadhan tahun 2003, sebuah perjalanan hidup penuh ujian dan makna pun dimulai. Saat itu, saya berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan—terlunta-lunta layaknya seorang tanpa arah di Terminal Cilembang, Tasikmalaya (yang kini dikenal sebagai Terminal Indihiang).

Selama kurang lebih satu minggu menjalani hari-hari penuh ketidakpastian, sebuah titik terang mulai terlihat. Saya didatangi oleh dua orang utusan—seorang pria dan seorang perempuan—yang mengajak saya menuju Suryalaya untuk bertemu dengan Abah Anom.

Awalnya, saya tidak mengetahui siapa sebenarnya Abah Anom. Namun rasa penasaran mendorong saya untuk mencari tahu lebih jauh, hingga akhirnya saya memutuskan berangkat ke Suryalaya menggunakan bus “Do’a Ibu”.

Di dalam perjalanan, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Saat kondektur menagih ongkos, saya hanya bisa menjawab jujur bahwa saya tidak memiliki uang. Ketika ditanya tujuan, saya menyebut ingin ke Suryalaya untuk bertemu Abah Anom.

Reaksi kondektur berubah. Dengan nada heran ia bertanya, “Ajengan siapanya Abah Anom?”

Dengan spontan saya menjawab, “Saya muridnya Abah Anom.”

Setelah memperhatikan saya dari ujung kepala hingga kaki, kondektur tersebut akhirnya berkata,

“Kalau benar muridnya Abah Anom, silakan… tidak usah bayar.”

Dalam hati saya saat itu hanya bisa berkata:

“MasyaAllah… luar biasa karomah Abah Anom.”

Perjalanan ini menjadi titik awal perubahan hidup—sebuah bukti bahwa di balik kesulitan, selalu ada jalan yang dibukakan oleh Allah melalui perantara orang-orang pilihan-Nya.

Setiap perjalanan hidup punya cerita. Kadang dimulai dari titik terendah, lalu Allah angkat dengan cara yang tak terduga.

Penulis: RH. Sudarto

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *