Bukittinggi, newshanter.com – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, memberikan dukungan penuh terhadap upaya penetapan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan. Dukungan tersebut disampaikan melalui sambutan tertulis yang dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Seminar Nasional “Bukittinggi Kota Perjuangan” yang digelar di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis (18/6/2026).
Dalam pesannya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa peringatan 100 Tahun Jam Gadang bukan sekadar perayaan sebuah bangunan bersejarah, melainkan momentum untuk menghidupkan kembali memori kolektif bangsa mengenai peran penting Bukittinggi dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia pada masa-masa paling kritis.
Menurut Sri Sultan, Jam Gadang bukan hanya penanda waktu, tetapi saksi sejarah yang menyimpan jejak perjuangan bangsa. Setiap detak jarumnya menjadi pengingat bagaimana Republik Indonesia yang hampir dilumpuhkan oleh agresi militer Belanda justru mampu tetap bertahan dan melanjutkan perjuangan dari Bukittinggi.
“Satu abad Jam Gadang adalah satu abad ingatan. Ia bukan sekadar monumen wisata, melainkan saksi bisu perjalanan bangsa. Ketika Republik berada dalam ancaman, Bukittinggi menjadi tempat di mana denyut pemerintahan Indonesia tetap hidup,” demikian kutipan sambutan Sri Sultan.
Ia menjelaskan bahwa tema seminar, “Ketika Republik Tak Boleh Padam”, menggambarkan secara nyata situasi yang terjadi pada 19 Desember 1948. Saat Yogyakarta sebagai ibu kota Republik jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer Belanda II, nyala Republik tidak ikut padam. Sebaliknya, semangat perjuangan dan keberlangsungan pemerintahan Indonesia dipertahankan melalui Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berpusat di Sumatera.
Sri Sultan menilai keberadaan PDRI merupakan salah satu bukti paling kuat tentang kokohnya nasionalisme Indonesia. Dalam kondisi negara yang nyaris lumpuh, para pemimpin bangsa mampu menjaga eksistensi Republik dan menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia tetap ada dan tetap berdaulat.
Mengutip pemikiran ilmuwan politik Benedict Anderson dalam karya “Imagined Communities”, Sri Sultan menyampaikan bahwa bangsa merupakan komunitas yang dibangun melalui kesadaran dan imajinasi bersama. Namun dalam situasi krisis, imajinasi kebangsaan tersebut harus diwujudkan menjadi tindakan nyata.
“PDRI adalah bukti bahwa nasionalisme Indonesia bukan sekadar gagasan, melainkan kenyataan yang diperjuangkan dengan keberanian, pengorbanan dan tekad yang luar biasa,” tulisnya.
Sri Sultan juga mengingatkan kembali kronologi sejarah ketika Belanda melancarkan serangan mendadak ke Yogyakarta pada pagi hari tanggal 19 Desember 1948. Serangan diawali dengan pendudukan Lapangan Udara Maguwo dan dilakukan hanya beberapa jam setelah Belanda mengumumkan pembatalan sepihak Perjanjian Renville.
Dalam situasi darurat tersebut, para pemimpin bangsa bergerak cepat untuk memastikan keberlangsungan negara. Ketika Yogyakarta jatuh, Bukittinggi dan wilayah Sumatera menjadi pusat harapan baru bagi Republik Indonesia. Dari sanalah semangat perjuangan terus dikobarkan hingga akhirnya Indonesia memperoleh pengakuan kedaulatan secara penuh.
Melalui seminar nasional ini, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa peran Bukittinggi dalam sejarah bangsa memiliki nilai yang sangat penting dan layak mendapat pengakuan lebih luas sebagai kota yang menjaga nyala Republik di masa-masa tergelap perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Peringatan 100 Tahun Jam Gadang pun diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah generasi muda sekaligus meneguhkan posisi Bukittinggi sebagai salah satu kota yang memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (A/M)





