Ogan Ilir, newshanter.com – Krisis kekeringan yang melanda Desa Ulak Kembahang, Kecamatan Lubuk Keliat, kini memasuki tahap mengkhawatirkan. Sedikitnya 300 hektare lahan persawahan terancam gagal panen (puso), yang tidak hanya memukul ekonomi warga, tetapi juga mengancam status gizi keluarga petani di wilayah tersebut.
Kekeringan Menghantui, Ratusan Petani Lubuk Keliat Terancam Puso: DPD Tani Merdeka Ingatkan Risiko Lonjakan Stunting
Menanggapi situasi ini, Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia Ogan Ilir, Edy Patriyansha didampingi Sekretaris DPD Tani Merdeka Indonesia Ogan Ilir, Beni APN, dan Bidang koperasi DPD Tani Merdeka Indonesia Ogan Ilir Linggar S.P., menyatakan keprihatinan mendalam saat meninjau kondisi lapangan.
Menurutnya, retaknya lahan persawahan adalah sinyal darurat yang harus segera direspon oleh pemangku kebijakan.
“Kami sangat prihatin melihat kondisi di Desa Ulak Kembahang. Para petani kita sedang bertaruh nyawa demi menyambung hidup. Jika 300 hektare ini gagal total, maka ketahanan pangan di tingkat keluarga akan runtuh,” ujar Edy Patriyansha dengan tegas, Jumat (15/5/2026).
Ancaman Stunting Akibat Krisis Pangan
Edy juga menyoroti korelasi kuat antara gagal panen dengan risiko kesehatan jangka panjang. Ia mengingatkan bahwa penurunan pendapatan petani akan berdampak langsung pada kemampuan orang tua dalam memenuhi gizi anak-anak mereka.
“Jangan sampai krisis lahan kering ini berujung pada meningkatnya angka stunting. Ketika petani kehilangan mata pencaharian, akses terhadap pangan bergizi bagi balita dan ibu hamil akan terputus. Ini adalah ancaman serius bagi generasi masa depan Ogan Ilir,” tambahnya.
Desakan Bantuan Infrastruktur dan Sarana Produksi
Selain masalah air, Edy Patriyansha menyoroti buruknya infrastruktur Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 3 kilometer yang masih berupa tanah merah.
DPD Tani Merdeka Indonesia Ogan Ilir mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah konkret:
1. Pembangunan Sumur Bor: Sebagai solusi permanen ketersediaan air.
2. Perbaikan Jalan (JUT): Minimal 1 kilometer jalan krusial untuk memudahkan mobilisasi bantuan dan hasil tani.
3. Distribusi Pompa Air & Benih Adaptif: Penanganan darurat untuk menyelamatkan sisa lahan yang ada.
“Kami dari Tani Merdeka akan terus mengawal aspirasi ini hingga ke pemerintah pusat. Petani adalah ujung tombak kedaulatan pangan, mereka tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian di tengah kekeringan,” pungkas Edy. (Frs)





