Palembang, newshanter.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) dalam hal ini Gubernur Sumsel H Herman Deru membuka secara langsung acara pembukaan seminar sosialisasi pemantapan implementasi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan kelembagaan Unit Organisasi yang bersifat khusus pada Dinas Kesehatan (UOBK) serta akreditasi bagi rumah sakit daerah wilayah Sumsel.
Adapun tema kegiatan ini sendiri yakni “Rumah Sakit Daerah – Maju Bersama, dimana kegiatan ini sendiri diselenggarakan oleh Asosiasi Rumah Sakit Daerah (ARSADA) se Indonesia. Kegiatan ini sendiri dipusatkan di Grandballroom The Zuri Hotel Palembang, Selasa (15/8/2023).
Dikatakan Ketua Umum DPP ARSADA dr Raden Heru Ariyadi, M.PH, disini perlu kami sampaikan bahwa ARSADA didirikan pada tanggal 3 November 2000 merupakan wadah organisasi bagi rumah sakit daerah. ARSADA didirikan dengan latar belakang dimulainya era otonomi daerah. Karena dengan berakhirnya otonomi seolah-olah hubungan antar jajaran kesehatan, antar kabupaten/kota, antar provinsi dengan pusat seolah-olah terputus sehingga diperlukan lah sebuah warga organisasi.
“Saat ini terdapat 882 rumah sakit daerah mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar. Untuk yang kecil kapasitasnya adalah 50 tempat tidur, dan yang besar rumah sakit kelas A kapasitasnya lebih dari 1000 tempat tidur,” ujarnya.
Kemudian, dimana yang tempatnya tersebar di seluruh 514 kabupaten/kota dan 34 provinsi seluruh Indonesia. Sebagai rumah sakit yang berjumlah besar yang dimiliki oleh pemerintah, rumah sakit daerah memiliki tugas fungsional sebagaimana tersebut di dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yaitu kewajiban pelayanan kesehatan bagi penduduk Indonesia. Oleh karenanya rumah sakit daerah menjadi salah satu kunci keberhasilan program nasional dibidang kesehatan.
“Disamping itu melalui tranformasi layanan rujukan, rumah sakit daerah juga menjadi tempat pendidikan dan pengenalan kewajiban bagi calon tenaga kesehatan di Indonesia. Selain itu juga merupakan tempat penelitian kesehatan yang menghasilkan produk baru,” ungkapnya.
Menurut Gubernur Sumsel H Herman Deru, ini sesuatu yang mungkin tidak ada didalam Undang-Undang, didalam Peraturan Daerah (Perda) yang perlu kita benahi, kenapa kita kalah dengan swasta, dan apa bedanya, bedanya cuma satu yakni beda kelasnya saja seperti ramah, dan bersih. Jadi bapak/ibu jangan terkejut bahwa saya akan jalan-jalan ke rumah sakit, pasti tidak saya permalukan tetapi saya umumkan. Disini saya belum turun-turun, saya baru berbicara dahulu, karena saya takut nanti ada yang tidak enak.
“Maka saya lebih baik warning dahulu jangan terkejut, setelah saya bicara ini, diwaktu yang tidak terjadwal atau yang tidak dijadwalkan pasti saya akan turun setelah saya warning ARSADA,” katanya.
Dilanjutkannya, kita bicara health tourism tadi sepertinya mimpi besar, tapi saya yakin besar itu bisa menjadi kenyataan. Buktinya kita sudah bisa memulainya dari satu, misalnya Batu Ginjal itu di rumah sakit Pelabuhan, Jantung di Rumah Sakit Fatimah, dan sebagainya. Jadi tidak usah muluk-muluk, bila perlu kita tiru Malaysia itu, kenapa orang ke Johor, kenapa orang ke Binai, apa bedanya kita dengan mereka. Dimana disini saya akan mengajak untuk tahu apa sih tujuan dari saya cerita tentang kesehatan.
“Pengobatan itu saya selalu bilang ini yang terakhir, buat terakhir pelayanan yang terakhir yang namanya berobat itu, kalau bisa jangan sakit. Ada tugas mulia untuk kita sebagai abdi negara, bahwa kita punya tugas mengedukasi dan me literasi masyarakat didalam hal kesehatan,” ucapnya.
Begitu juga disampaikan Ketua ARSADA Provinsi Sumsel dr Hj Makiani SH,.MM,.Mars, dimana ARSADA itu Asosiasi Seluruh Rumah Sakit daerah se Indonesia, tapi kita wilayah Sumsel. Acara kita jadi arahan dari narasumber pusat dan pengurus ARSADA pusat tentang implementasi BLUD serta UOBK untuk organisasi bersifat khusus termasuk juga akreditasi.
“Jadi memang masih banyak yang multi tafsir dan sebagainya, jadi diluruskan dengan acara kit dengan para ahlinya yakni dari pusat,” imbuhnya.
Masih disampaikannya, Kalau untuk kegiatan ini sudah sering kita lakukan, tapi sosialisasi kita biasa memang tidak dalam mengundang para kepala-kepala daerah dan sebagainya. Kita dari ARSADA yang langsung ke rumah sakit-rumah sakit daerah didalam pertemuan kita. ARSADA ini sendiri sudah ada sejak tahun 2000 sudah ada di Indonesia ini.
“Dimana untuk saya sendiri sudah periode kedua, jadi sudah 6 tahun yang lalu kita berdiri. Sebenarnya kegiatan ini kita sebagai motivator ke rumah sakit-rumah sakit daerah lain, advokator jadi kita advokasi dan sebagainya,” tutupnya.(ton)





