Gempa Aceh suda 96 Meninggal

Aceh.Newshanter.com.jumlah korban tewas akibat gempa di Aceh yang terjadi Rabu (07/12/2016) hingga siang sudah mencapai 96 jiwa dan kemungkinan masih akan bertambah, seperti dijelaskan salah seorang anggota Tim Kantor Presiden untuk Gempa Aceh.

“Jumlah korban jiwa kemungkinan masih akan bertambah karena ada daerah yang belum terjangkau alat-alat berat,” jelas Ifdhal Kasim kepada wartawan BBC Indonesia, Rebecca Henschke.

Ifdhal -yang akan segera meninjau langsung lokasi bencana- Dia menambahkan bahwa gempa juga menghantam kawasan yang padat penduduknya dengan keterbatasan alat-alat berat untuk mencari korban yang mungkin tertimpa puing-puing.

Kemungkinan meningkatnya jumlah korban jiwa itu sebelumnya juga diungkapkan oleh juru bicara BNPB Sutop Purwo Nugroho.”Korban dikhawatirkan bisa terus bergerak naik karena saat ini masih ada warga yang terjebak di bawah bangunan yang ambruk,” jelas Sutopo dalam jumpa pers di kantor BNPB, Rabu (07/12/2016) siang.

Dari jumlah korban itu belum dipilah berapa korban anak-anak dewasa maupun orang tua, laki-laki dan perempuan.Sementara korban luka berat tercatat sedikitnya 73 orang dan 122 orang menderita luka ringan
Sutopo mengatakan sekarang ini fokus utama operasi pencarian dan penyelamatan korban jiwa.Dia mengatakan belum dapat memperkirakan jumlah korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan. Disebutkannya, cukup banyak warga yang menolak masuk penampungan sementara, dan lebih suka kembali ke rumah mereka.

“Sebetulnya bagi yang rumahnya rusak disediakan lokasi pengungsian. Namun masyarakat seringkali tidak mau ke pengungsian dan mendirikan tenda di depan rumah mereka,” jelasnya.Banyaknya kerusakan rumah penduduk itu, katanya karena banyaknya bangunan yang tidak dibangun untuk tahan gempa.

Sutopo mengatakan daerah Pidie Jaya merupakan daerah yang rawan terhadap gempa dan berada di jalur gempa zona sesar samalanga sipopo yang berada di darat.Daerah tersebut pernah terjadi gempa.

“Masyarakat sudah berpengalaman, sehingga begitu trjadi gempa langsung berlari ke daerah yang lebih tinggi.
Menurut data BNPB sekitar 62 persen penduduk indonesia tinggal di daerah rawan gempa bumi.
Kerusakan bangunan juga terjadi di kawasan itu.

Sementara itu Sebuah rumah di Kecamatan Gelumpang Tiga, Kabupaten Pidie, rumah roboh dan menimpa penghuninya. Adapun di Kabupaten Bireuen terdapat masjid yang rusak akibat gempa.

Kepada BBC Indonesia, Puteh A Manaf selaku kepala BPBD Kabupaten Pidie Jaya mengatakan sebanyak 36 unit toko roboh setelah terpapar guncangan gempa.

“Saat ini saya di Kota Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Saya mendapat laporan sebanyak satu orang meninggal dunia lantaran tertimpa bangunan. Ada pula tiga korban luka-luka yang dibawa ke rumah sakit,” kata Puteh.

Jumlah korban jiwa dan skala kerusakan, menurut Puteh, masih terus diperbarui mengingat personel BPBD masih terus berupaya menjangkau seluruh kawasan yang terpapar gempa. “Kami agak kesulitan karena ada beberapa personel kami yang keluarganya juga menjadi korban,” ujar Puteh.

Hasil pemantauan BMKG menunjukkan hingga pukul 05.30 WIB sudah terjadi gempa bumi susulan sebanyak lima kali dengan kekuatan terbesar 4,8 pada skala Richter.

Werga Panik Dikira Gempa Mengakibatkan Sunami

Beberapa Warga di Pidie Jaya, Aceh, kapada wartawan mengaku panik dan khawatir gempa dengan kekuatan 6,5 pada skala Richter pada hari Rabu (07/12/2016) pagi akan menimbulkan tsunami.

Begitu gempa terjadi orang-orang berlari keluar dari rumah dan mencari lokasi yang lebih tinggi, kata warga Pidie Jaya, Hamdani yang berusia 45 tahun.

“Sama seperti waktu gempa dulu, malah (kali ini) gempanya lebih parah lagi. Guncangan gempanya lebih keras,” ungkap Hamdani.
“Menjelang subuh, siap-siap salat tiba-tiba ada gempa. Kami ke luar semua karena kebetulan rumah kita berdekatan dengan laut, jadi kami cari tempat yang aman karena pengalaman waktu tsunami (2004),” kata Hamdani. Setelah gempa besar, dia merasakan beberapa kali gempa susulan, tetapi di sekitar permukimannya tak banyak rumah yang hancur.

Fitriyanti, warga Pidie lain, menggendong kedua anaknya yang masih balita untuk ke luar rumah.Dia juga mengatakan bahwa guncangan gempa terasa keras dan berbeda dengan gempa yang disertai tsunami pada 26 Desember 2004. Ia menggambarkan gempa pada 2004 lalu seperti naik ayunan.

“(Kali ini saya) langsung berlari keluar menggendong anak karena anak masih tidur,” kata Fitriyanti.
Azir (52 tahun) yang juga warga Pidie Jaya mengaku masih tidur ketika gempa terjadi.

“Setelah itu disuruh bangun, yang lain tak tahu juga… tak ada yang rusak parah. Di rumah paling pecah, kena kepala kena lemari (yang) jatuh,” jelas Azir.

Gempa hari Rabu berpusat di darat dan menyebabkan ratusan bangunan ruko, rumah warga, dan fasilitas umum seperti masjid dan sekolah rusak.Pada 2004 terjadi gempa besar di Aceh yang diikuti tsunami, menyebabkan sekitar 120.000 orang tewas. Namun kawasan Pidie Jaya tidak termasuk dalam kawasan yang menderita karena gempa dan tsunami 12 tahun lalu.(bbc/01)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *