Edo Saputra PMII: Kemerdekaan Diukur dari Keadilan, Bukan Hanya Upacara 17 Agustus

Edo Saputra PMII: Kemerdekaan Diukur dari Keadilan, Bukan Hanya Upacara 17 Agustus

PALI, Newshanter.com – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Edo Saputra, S.Pd, Anggota Biro Kaderisasi PKC PMII Sumatera Selatan, mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, menjadikan 17 Agustus sebagai ruang refleksi menuju Indonesia Emas 2045.

Menurut Edo, kemerdekaan bukan sekadar mengenang Proklamasi 1945 lewat upacara dan seremoni tahunan. Kemerdekaan harus diukur dari sejauh mana negara mampu menghadirkan keadilan sosial, menjamin kesejahteraan rakyat, menegakkan supremasi hukum, serta memastikan setiap kebijakan publik berpihak pada masyarakat.

“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya pandai merayakan sejarah, tetapi bangsa yang berani mengoreksi dirinya sendiri. Jika kritik dianggap ancaman, maka sesungguhnya yang sedang terancam adalah kualitas demokrasi kita,” tegas Edo Minggu (02/8/2026).

Indonesia Emas 2045: Jangan Jadi Slogan

Ia menilai visi Indonesia Emas 2045 tidak boleh berhenti sebagai slogan politik. Visi itu hanya bisa diwujudkan jika pembangunan nasional dibangun di atas 5 fondasi:

1. Tata kelola pemerintahan yang bersih

2. Birokrasi yang profesional

3. Pendidikan yang berkualitas

4. Ekonomi yang inklusif

5. Penegakan hukum yang adil tanpa pandang status

Edo menyoroti masih adanya korupsi, ketimpangan ekonomi, lemahnya pengawasan SDA, serta praktik pemerintahan yang belum sepenuhnya akuntabel dan transparan.

“Indonesia Emas tidak akan lahir dari pidato yang indah ataupun pencitraan politik. Ia hanya akan lahir dari keberanian membangun pemerintahan yang bersih, menegakkan hukum secara konsisten, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kekuasaan,” ujarnya.

Tugas Pemuda Menuju Sumpah Pemuda 2028

Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda 2028, Edo mengingatkan generasi muda punya tanggung jawab historis menjaga cita-cita pendiri bangsa.

“Pemuda harus kembali menjadi kekuatan moral dan kekuatan intelektual. Tugas kita bukan sekadar mengkritik, tetapi menghadirkan gagasan, mengawal kebijakan publik, mengawasi penggunaan anggaran negara, dan memastikan pembangunan berjalan sesuai amanat konstitusi” katanya.

Sebagai kader PMII, ia menegaskan kampus dan organisasi kemahasiswaan tidak boleh kehilangan peran sebagai ruang lahirnya pemikiran kritis yang independen dan berpihak pada rakyat.

Mengakhiri refleksinya, Edo mengajak generasi muda menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai momentum memperkuat persatuan, integritas, dan keberanian menyampaikan kritik konstruktif.

“Para pendiri bangsa mewariskan kemerdekaan dengan pengorbanan jiwa dan raga. Tugas generasi hari ini adalah memastikan kemerdekaan itu tidak kehilangan makna akibat korupsi, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan melemahnya moralitas publik. Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila kita berani membenahi arah bangsa mulai dari hari ini,” tutupnya.

Edo menegaskan, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa meriah perayaan kemerdekaan, melainkan seberapa besar keberanian menegakkan keadilan dan menempatkan kepentingan rakyat sebagai tujuan utama kebijakan negara.(Snt)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *