Pekanbaru. New
shanter.-Kabut asap di Riau akhirnya mencapai puncak pada awal September ini. Kamis (03.09/2015), aktivitas Bandara Sultan Syarif Kasim II di Pekanbaru mengalami gangguan akibat jarak pandang yang sangat rendah sehingga dapat membahayakan penerbangan, bandara kembali lumpuh tanpa aktivitas penerbangan.
“Semua penerbangan menuju Pekanbaru sejak Kamis pagi belum ada yang dapat mendarat karena jarak pandang mencapai 200 meter. Otoritas bandara tidak membolehkan pendaratan pesawat. Semua pesawat yang menuju Pekanbaru masih standby di bandara asal sampai cuaca membaik,” ujar Tony Hendrik, Duty Manager Bandara Sultan Syarif Kasim II, Kamis.
Pada hari Rabu, bandara juga mengalami kelumpuhan setengah hari. Penerbangan baru normal di atas pukul 12.00. Meski demikian, dua pesawat yang bermalam di Pekanbaru, yaitu Lion Air dan Garuda Indonesia tujuan Jakarta, masih dapat diberangkatkan pada pukul 06.40 dan 07.10. Jarak pandang kemarin mencapai 500-1.000 meter.
Kamis pagi, kondisi kabut asap semakin parah. Jarak pandang bertahan di bawah 500 meter. Otoritas bandara melarang keberangkatan pesawat Lion Air dan Garuda Indonesia yang sebelumnya bermalam di Pekanbaru. Baru pada pukul 08.30 Garuda Indonesia terbang menuju Jakarta.
Kondisi cuaca di hampir seluruh Riau, sudah masuk kategori tidak sehat. Dari pembacaan 10 alat pencatat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang tersebar di beberapa wilayah Riau, enam di antaranya berada pada kategori Berbahaya dengan angka polutan di atas 300. Enam wilayah itu adalah Rumbai dan Panam (Pekanbaru), Petapahan-Kampar, Minas-Siak, serta Bangko dan Libo-Rokan Hilir.
Wilayah Kota Pekanbaru sedikit lagi akan masuk tahap Berbahaya. Angka ISPU sudah mencapai 282 atau Sangat Tidak Sehat. Adapun Kota Dumai berada pada kategori Tidak Sehat.
Angka ISPU di Riau memang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, tetapi belum ada tanda-tanda pemerintah pusat dan daerah mengambil sikap untuk melindungi seluruh warga dari paparan asap. Sebagai pembanding, pada 2014, Pemerintah Kota Paris, Perancis, langsung memberlakukan pembatasan lalu lintas kendaraan motor di kota itu tatkala angka ISPU mencapai 180.
Meski demikian, aktivitas belajar-mengajar sudah mulai diliburkan. Beberapa daerah, yakni Pekanbaru, Siak, dan Bengkalis, meliburkan semua siswa dari taman kanak-kanak sampai SMA. Adapun Kuantan Singingi hanya meliburkan anak sekolah sampai SMP. Sementara murid SMA tetap bersekolah seperti biasa.
Aktivitas masyarakat umum di luar ruangan tidak berkurang. Pasar Pagi Cik Puan di Jalan Tuanku Tambusai masih dipenuhi pedagang dan pembeli. Sayangnya sangat minim pedagang dan pembeli yang menggunakan masker untuk melindungi diri.Beberapa Sejumlah pedagang juga mengeluh dengan kabut asap pembeli sepi orang enggan keluar rumah. Sementara itu di Jalan Harapa Raya mobil yang lalu landang tidak seperti hari biasanya. Begitu juga di jalan-jalan pratokol lainnya.
Berdasarkan pantauan satelit Aqua Terra pada Kamis pukul 07.00, titik panas di Pulau Sumatera masih bertebaran mencapai 708. Jambi menjadi daerah paling parah dengan 245 titik disusul Sumatera Selatan 189 dan Riau 177. Wilayah Bengkulu, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara yang biasanya kosong ikut menyumbang masing-masing 24, 32, dan 10 titik. Jumlah titik panas itu relatif sama dengan data sepanjang hari Rabu.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Riau Edwar Sanger mengungkapkan, Kamis (03/09/2015) pagi, kegiatan pengeboman air dengan menggunakan helikopter akan dimulai lagi setelah sempat berhenti dua hari terakhir. Berhentinya operasi helikopter disebabkan izin pakai sudah berakhir 31 Agustus sehingga membutuhkan izin baru.
“Hari ini helikopter sudah dapat dipakai lagi. Sepanjang Rabu Pelaksana Tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengurus izin itu langsung di Jakarta. Setelah izin keluar, hari ini pekerjaan pengeboman air dimulai lagi,” kata Edwar.(KC/NR)






