Wawancara Lengkap dengan Kapitra Ampera soal Jadi Caleg PDIP

Jakarta -Newshanter.com Advokat Kapitra Ampera bicara panjang-lebar soal kabar menjadi caleg Pemilu 2019 lewat daerah pemilihan (dapil) Sumatera Barat. Kapitra mengaku siap menjadi caleg, tapi harus lebih dulu memastikan kabar dirinya dicalegkan PDI Perjuangan di dapil Sumbar.

“Saya hari ini mencoba berkomunikasi dengan DPP PDIP, terus terang saya belum pernah bertemu satu orang pun dari DPP dan saya juga belum pernah bertatap muka bertemu bicara dengan Sekjen PDIP dan saya ingin bertanya langsung apa betul saya dicalonkan melalui dapil Sumbar? Ini penting bagi saya dan ini saya belum dapat konfirmasi langsung,” kata Kapitra kepada wartawan Masjid Raya Al-Ittihat, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (18/7/2018).

 

Berikut ini tanya (T)-jawab (J) Kapitra Ampera dengan wartawan:

 

T: Soal ramai di media Anda nyaleg bagaimana?
J: Memang saya menyadari bahwa hari ini, kemarin, saya menyadari saya sudah menjadi milik banyak orang sehingga apa yang harus dilakukan, apa yang harus saya lakukan atau yang akan dilakukan atau yang belum dilakukan menjadi milik publik juga.

Saya ingin katakan bahwa saya latar belakang seorang profesional. Saya orang yang selama ini bebas tidak terkait dengan partai politik mana pun, dan juga tidak terkait dengan organisasi mana pun kecuali organisasi profesi.

Kapasitas saya juga dalam aksi-aksi Bela Islam bukanlah orang yang mencetus dan memimpin aksi. Saya adalah bagian orang berada di garda advokasi, sama-sama bukan sendiri, sehingga hanya bagian sekrup kecil dan itu rupanya menarik untuk di apa… eee… diperhatikan orang, menarik untuk dikaji banyak orang.

Saya ingin katakan kebebasan itu tidak juga harus dibatasi oleh apa namanya doktrin-doktrin yang lain. Misalnya, saya ingin sampaikan bahwa saya pernah direkomendasi oleh saudara sahabat-sahabat abang-abang yang saya hormati dan diminta untuk mewarnai PDIP.

Artinya untuk masuk ke dalam sehingga bisa menjadi jembatan aspirasi antara yang di luar maupun yang di dalam.

Dan rekomendasi ini tentu menjadi pertimbangan bagi saya, sangat saya pertimbangkan karena ini orang-orang yang saya hormati dan saya tahu integritasnya atas bangsa ini dan agama.

Dalam pertimbangan itu tentu saya mengikhlasi apa yang bisa saya lakukan kalau saya di dalam karena kita tidak lagi berpikir soal kekuasaan, karena bagi seorang profesi saya mencintai profesi saya sebagai advokat.

Tetapi karena belakangan beberapa tahun ini bahwa ada kecenderungan umat Islam begitu bangga dengan keislamannya, maka ini tentu harus menjadi perhatian pemegang kekuasaan. Bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia juga mempunyai keinginan-keinginan.

Keinginan-keinginan ini yang selama ini tersumbat salurannya sehingga terjadi mispersepsi, miskomunikasi malahan terjadi benturan-benturan. Saya mempertimbangkan kalau saya tidak bisa berbuat apa-apa, kalau saya tidak bisa membela agama saya untuk apa saya masuk? Saya spiritnya tetap saya ingin menegakkan agama saya.

Karena saya prinsip membela ulama, saya menegakkan agama saya tentu saya harus punya komunikasi politik dan komunikasi politik ini belum terbangun belum ada komunikasi politik dan saya ingin katakan bahwa ladang amal itu nilainya di tempat-tempat yang sulit di tempat yang minoritas, di tempat komunitas yang begitu banyak persepsi.

Jangan kita hanya berteriak dari luar terus-menerus melakukan koreksi tapi kita tidak tahu di dalam. Bagaimana kita mempertanggungjawabkan kepada Allah kalau kita tidak beramar makruf nahi mungkar pada objeknya yang riil atau tidak memperlihatkan uswatun hasanah dalam akhlakul karimah.

Untuk itulah saya mempertimbangkan sehingga saya berkomunikasi dengan para ulama itu yang saya ingin lakukan termasuk ulama yang ada di Mekah dan saya juga mencoba juga beristikharah.

Kalau perjuangan kekuasaan menjadi caleg, saya katakan saya nggak mau jadi caleg, kalau hanya menjadi caleg untuk apa. Tetapi kalau bisa bermanfaat bisa menjadikan membangun sebuah ukhuwah menjadikan republik ini lebih damai.

Lalu perbedaan-perbedaan itu diselesaikan musyawarah lalu aspirasi-aspirasi menjadi perhatian pemerintah dan ada yang bisa menyampaikan langsung, why not? Kenapa tidak? Artinya bahwa banyak orang orang merasa termarjinalkan oleh kebijakan-kebijakan, bahwa ada kekuasaan hari ini tidak pro ke masyarakat dan sebagainya.

Apakah pemerintah mendengarkan itu? dan jembatan ini lah yang tidak ada. Jembatan kebaikan jembatan kebenaran ini harus dibangun sehingga ada komunikasi dua arah dan spirit itu dan saya mencoba menangkap rekomendasi. Tetapi problemnya sekarang kemarin ada pengumuman bahwa saya dicalonkan PDIP di dapil Sumatera Barat.

Saya hari ini mencoba berkomunikasi dengan DPP PDIP. Terus terang saya belum pernah bertemu satu orang pun dari DPP dan saya juga belum pernah bertatap muka bertemu bicara dengan Sekjen PDIP.

Saya ingin bertanya langsung, apa betul saya dicalonkan melalui dapil Sumbar? Ini penting bagi saya dan ini saya belum dapat konfirmasi langsung.

Tadi saya coba tapi karena ada kesibukan Beliau ya saya belum bisa berkomunikasi. Jadi sampai detik ini saya belum mendapat kejelasan ya, kejelasan apa yang disampaikan kemarin di KPU.

 

T: Anda bersedia dicalonkan PDIP?
J: Saya ingin mengatakan bahwa kalau saya punya manfaat dan ladang amal dan bisa menjembatani kebaikan, saya siap berkorban untuk itu. Tetapi kalau hanya cuma apa namanya… eee… naruh nama saya saja dan tidak punya nilai apa-apa tidak dapat memberi warna, untuk apa.

Jadi kita harus melihat fungsional, kita harus melihat fungsi kita itu bermanfaat tidak buat banyak orang bukan buat satu kelompok. Karena kalau tidak bermanfaat untuk apa?

T: Status caleg Anda bagaimana?
J: Saya tentu tanya kepada yang mencalonkan. Saya belum pernah minta minta dicalonkan, sama partai apapun . jadi kalau ada yang ngomong bahwa saya pernah… eee… bahwa Kapitra ke partai ini lalu dia tidak bersedia, tidak pernah itu.

T: Sikap Anda bagaimana, bisa dikatakan (penyebutan caleg) ini pencatutan nama?
J: Oh, nggak begitu. Saya katakan tadi ada yang merekomendasi dan meminta

 

T: Tapi belum persetujuan?
J: Saya amat mempertimbangkan itu tapi harus ada komunikasi politik

T: Yang meminta siapa?
J: Saya tidak etis menyebutkan itu

T: Dari DPP PDIP?
J: Teman, sahabat, abang-abang yang saya hormati selama ini

T: Dari PDIP?
J: Wallahualam. Tapi saya ingin jelaskan bahwa saya belum pernah berkomunikasi dengan DPP secara langsung, dengan DPP PDIP ya toh. Itu sudah menjadi suatu jawaban, tapi bagi saya yang penting adalah mau konfirmasi, ingin konfirmasi apa betul pencalonan saya sebagai caleg dari Sumbar.(Detik.COM)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *