PALEMBANG -Newshanter,com. SELALU tersenyum ramah dengan siapa pun menjadi salah satu ciri khasnya. Keseharian yang hidup dengan penuh kesederhanaan, menghantarnya menjadi seorang kepala daerah.
Namun sebelum menjadi seorang pemimpin sebagai jabatan yang diamanahkan masyarakat, berbagai macam profesi pun dilakoninya.Sepeti dilansir dari Sripoku. Maret 2017
Tak disangka, dulunya pria ini berjibaku mencari rejeki sebagai penjual ayam di bawah Jembatan Ampera.
Bagaimana kisah perjalanannya hingga menjadi seorang kepala daerah.
Berikut wawancara wartawan Sriwijaya Post, Welly Hadinata dengan Walikota Palembang, H Harnojoyo.
Sripo: Menjadi seorang kepala daerah yang kini memimpin Kota Palembang, apakah memang sudah menjadi cita-cita anda?
Harnojoyo: Berbicara masa lalu, saya ini hanyalah anak dari seorang petani yang lahir di dusun.
Namun seiring waktu berjalan, berbagai proses saya lalui.
Intinya saya dulu bercita-cita ingin membanggakan kedua orangtua dan keluarga saya.
Sripo: Bisa diceritakan masa-masa kecil anda di lingkungan keluarga dan juga pada masa sekolah?
Harnojoyo: Sejak dari lahir dan sekolah SD sampai SMP, saya tinggal di dusun.
Memang sejak dari kecil, kedua orangtua saya mengajarkan untuk hidup mandiri dan jangan pernah mengeluh.
Selain belajar pada masa-masa sekolah SD dan SMP di dusun, rutinitas saya memang banyak membantu orangtua untuk berkebun kopi.
Mungkin namanya juga orang dusun, jadi kegiatan rutinitasnya banyak di kebun.
Namun setelah tamat SMP, saya memilih merantau ke Lampung untuk melanjutkan sekolah SMA.
Pada masa merantau itu, saya anggap sebagai proses. Karena saat baru beberapa hari diperantauan, saya sempat dibilang bahwa orang dari dusun itu bodoh.
Tapi omongan itu saya anggap motivasi dan membuat saya terus bersunguh-sungguh untuk belajar dengan bekal hidup mandiri yang diajarkan kedua orang saya.
Alhamdulillah mungkin omongan yang bilang orang dusun itu bodoh, benar-benar menjadi motivasi saya.
Sripo: Selama di daerah rantau yang jauh dari keluarga, apa saja yang anda lakukan dalam menuntut ilmu?
Harnojoyo: Setelah saya tamat SMA, kemudian saya melanjutkan kuliah yang juga di Lampung.
Saya berpikir, karena orangtua di dusun dan tidak mau membebani keluarga, saya memilih bekerja sebagai sopir taksi.
Selama kuliah saya sempat ingin bekerja di bank. Karena pada waktu itu saya tertarik melihat pegawai bank yang rapi dan memakai dasi.
Alhamdulillah setelah tamat kuliah, saya tes dan diterima sebagai pegawai bank yang akhirnya pindah ke Palembang.
Sripo: Hidup di daerah rantau yang bekerja sebagai sopir hingga menjadi pegawai bank dan akhirnya pindah kerja ke Palembang, apakah pada masa itu anda merasa bersyukur?
Harnojoyo: Setiap apapun yang saya lalui, saya selalu bersyukur. Pindah ke Palembang memang saya bersyukur karena tidak jauh dengan keluarga.
Namun pada waktu itu saya memilih berhenti sebagai pegawai bank. Saya pun kembali ke dusun dan kembali berkebun.
Sembari berkebun saya juga diajak memelihara ayam. Di dusun itu saya mulai belajar menjual ayam, tapi pada akhirnya ayam di dusun sudah banyak dan saya mencoba menjual ayam di Palembang.
Sripo: Apakah dengan berprofesi sebagai penjual ayam dari dusun ke Palembang, menjadi tantangan bagi anda?
Harnojoyo: Pertama kali saya menjual ayam di Palembang di bawah Jembatan Ampera dan kembali lagi dari nol, merintis sebagai penjual ayam.
Pada masa itu saya hanya membawa lima ekor ayam dan susah sekali lakunya dalam sehari. Tapi saya harus bisa hidup, karena untuk mencukupi kehidupan saya dan istri serta anak saya yang masih kecil.
Bahkan pada masa itu memang sempat menjadi cibiran. Karena status saya seorang sarjana dan juga mantan pegawai bank, namun kenyataan hanya sebagai penjual ayam.
Lagi-lagi saya anggap sebagai motivasi. Bahkan motivasi lainnya pada waktu itu, ada seorang penjual ayam yang hanya tamat SD namun dalam sehari bisa menjual 2.000 ekor ayam. Sedangkan saya seorang sarjana hanya bisa menjual lima ekor ayam.
Alhamdulillah setelah proses waktu yang cukup lama dengan persaingan yang ketat, saya akhirnya mampu menjual 2.000 ekor perharinya. Karena saya memang fokus menjual ayam dan menjauhkan rasa malu meskipun berstatus sebagai seorang sarjana.
Sripo: Kalau boleh tahu, bagaimana anda bisa berkecimpung ke dunia politik?
Harnojoyo: Awal mulanya saya masuk partai politik itu tahun 2003. Ketika itu saya diajak untuk bergabung ke partai.
Waktu itu saya berpikir, kalau masuk ke partai itu bisa meningkatkan ayam yang saya jual. Karena saya berpikir pejabat-pejabat pada masa itu banyak sedekah, jadi ayam yang saya jual bisa laku (sembari tertawa).
Tugas pertama kali di partai politik itu, saya hanya bertugas memasang umbul-umbul dan bendera partai di pinggir jalan.
Mungkin pada saat itu bisa membuat biru Kota Palembang, akhirnya saya dipercaya menjadi ketua partai di kecamatan.
Jujur pada masa itu saya bingung, pegang mic (mikropon) saja masih kaku. Jadi akhirnya saya memilih stop jual ayam dan fokus sebagai pengurus partai.
Sripo: Apa yang menjadi pegangan atau komitmen anda dalam setiap proses yang anda lalui. Kemudian apa harapan anda kedepannya untuk Kota Palembang?
Harnojoyo: Setiap proses yang saya lalui memang tidak semulus yang dibayangkan.
Banyak kendala dan hambatannya, namun semua itu saya anggap bagian dari proses untuk mencapai keberhasilan.
Sejak dari kecil yang tinggal di dusun, kedua orangtua saya mengajarkan untuk bersikap mandiri.
Kemudian lakukan setiap perbuatan itu dengan fokus dan bersungguh-sungguh. Namun yang terpenting lakukan dengan ikhlas.
Dari sopir, pegawai bank dan jual ayam, saya jalankan dengan fokuskan satu-satu. Jadi memang harus fokus dan berani ambil keputusan.
Dipercaya sebagai Walikota Palembang, saya pun harus fokus dan terus berupaya menjadikan Kota Palembang sesuai harapan dan cita-cita masyarakat. (*)





