Tiga Pelaku Pembunuhan Keluarga Tasir, Remaja Putus Sekolah

Tiga Pelaku Pembubuhan Tasur dan Kekuarganya Foto Tribun Sumsel

BANYUASIN -Newshanter.com- Tiga pelaku pembunuhan yang menewaskan Tasir dan keluarganya di Desa Indrapura Kecamatan Muara Sugihan ternyata tidak tamat sekolah. Hal ini diketahui saat ketiga tertangkap oleh jajaran Polres Banyuasin dan Polda Sumsel dalam persembunyiannya, Senin (23/5/2016).

Pelaku yang jumlahnya lima orang ini, diantaranya empat pelaku masih tergolong muda yakni Nendi Mulyana umur 17 tahun, Abdul kohar alias Adul umur 19 tahun, Purwanto umur 22 tahun dan Uuk (masih buron) umur diperkirakan masih 19 tahun. Cuma satu pelaku sekaligus otak perencana yakni Agus Mubarok yang umurnya sudah 47 tahun dan kini sudah diringkus di Bekasi.

Bacaan Lainnya

Keempat pelaku yang belakangan diketahui menerima saja tawaran Ahmad Mubarok untuk bersama-sama merampok sekaligus menghabisi keluarga Tasir diduga karena faktor pendidikan. Maklum, karena sudah putus sekolah kelima pelaku mau saja saat diiming-imingi AM uang hasil rampokan agar mau merampok dan membunuh Tasir beserta istri, anak dan cucunya pada Rabu lalu (11/5/2016) sekitar pukul 20.00 WIB.

“Jadi para pelaku ini yang masih muda-muda tergiur ajakan Agus Mubarok sebagai pencetus ide itu. Pelaku mau saat diajak merampok dan membunuh Tasir sekeluarga,” kata Kapolres Banyuasin AKPB Prasetyo didampingi Kasat Reskrim AKP Agus Sunandar.

Empat pelaku juga tergoda bujuk rayu saat diminta Agus Mubarok membantu menyelesaikan masalah sengketa jual beli tanah dengan korban Tasir. Bahkan pelaku yang merupakan para eksekutor ini teganya menghabisi anak dan cucu Tasir dengan keji.

“Semua korban dibunuh dengan keji menggunakan kayu gelam diamater sekitar 5 inci. Kayu gelam yang biasa digunakan untuk patok tanah digunakan pelaku,” ungkapnya.

Sehari-hari empat pelaku yang masih muda-muda itu bekerja serabutan sebagai tukang rumput membantu orang tuanya. Kadang para pelaku juga menjadi tukang pengupas kelapa di daerah Makarti Jaya. Maklum karena sudah putus sekolah tidak ada kerja lain selain kerja kasar tersebut.

“Ya pelaku ini kerja sehari-hari ngupas kelapa kadang merumput membantu orang tua didesanya” kata Prasetyo.

Sedangkan otak perampokan Agus Mubarok sehari-hari bekerja sebagai petani. Ia juga dikenal sebagai makelar tanah di kawasan Muara Padang dan Muara Sugihan.

“Agus ini kerjanya sehari-hari kadang jadi semacam calo/makelar tanah. Ia juga sebagai petani,” jelas Prasetyo. (TS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *