JAKARTA -Newshanter.com,- Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mendukung penuh rencana pendirian sekolah jurnalistik internasional yang digagas Gubernur Sumsel H Alex Noerdin.Mereka mengusulkan namanya menjadi Indonesia School of Journalisme.
Demikian dikemukakan dua Wakil Ketua PWI Marah Sakti Siregar dan Atal Depari saat bertemu dengan Kepala Newsroom Sriwijaya Post-Tribun Sumsel Hadi Prayogo dan Kabag Humas Prov Sumsel Oentoeng Sarwono, di Kantor PWI Jl Kebon Sirih Jakarta, Kamis (01/10/2015).
Hadi Prayogo dan Oentoeng sengaja datang ke kantor PWI Pusat untuk mempresentasikan perkembangan pembangunan sekolah jurnalistik tersebut.Sehari sebelumnya bersama rombongan PU Cipta Karya dan konsultan pembangunan PT Indah Karya, Hadi roadshow ke sejumlah industri pers di Jakarta untuk studi banding dan meminta masukkan kebutuhan industri pers saat ini dan masa depan.
Seperti diberitakan Gubernur Alex Noerdin berencana mendirikan tiga perguruan tinggi sekaligus, yakni Institut Olahraga Indonesia, Sekolah Tinggi Pariwisata dan Sekolah Jurnalis bertaraf internasional. Ketiganya berlokasi di kompleks Jakabaring Sport Centre (JSC). terkenal di dunia, Missouri School of Journalism, Amerika Serikat.
Alex mengajak serta lima pimpinan media termasuk Hadi Prayogo dan tiga pengurus PWI (Marah Sakti Siregar, Atal Depari dan Ahmad Kurnia) untuk anjangsana langsung ke AS melihat sekolah tersebut, tahun lalu.Marah Sakti Siregar mengungkapkan sekolah jurnalis memang cita-cita PWI untuk meningkatkan kualitas wartawan Indonesia.
“Apa yang digagas Pak Alex untuk memajukan dunia jurnalistik tentu kami dukung sepenuhnya,” katanya. Ditambahkan Atal sebenarnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga sudah menyatakan keinginannya untuk mendirikan sekolah jurnalis di Jawa Tengah.”Sumsel maupun Jawa Tengah silakan membikin, namun melihat kesiapan Sumsel sepertinya Sumsel duluan,” kata Atal.
Sementara pimpinan itu Newsroom Harian Sriwijayaost dan Tribune Sumsel, Hadi Prayogo Dalam presentasinya mengungkapkan Indonesia School of Journalism ini akan mengusung konsep konvergensi media newsroom.Sehingga nantinya para mahasiswa akan dididik menguasi jurnalistik print, televisi, radio, dan online.
Bahkan juga mengembangkan drone jurnalism (foto dan video menggunakan pesawat tanpa awak yang sering disebut drone, Red). Perkembangan bisnis media massa saat ini terus membengkak sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang handal menguasi masa depan jurnalistik, yakni konvergensi media. “Direncanakan sekolah jurnalis nanti menempuh pendidikan empat tahun dan menelurkan sarjana yang menguasai multimedia.
Apalagi didukung dosen dari Missouri School of Journalism, saya yakin keinginan membuat wartawan profesional jadi kenyataan,” papar Hadi Prayogo yang juga Ketua Forum Komunikasi Daerah Kompas Gramedia Sumsel. Paradigma Baru Jurnalistik Menurut Hadi yang diminta memberi masukan Pemprov Sumsel terkait pembangunan Sekolah Jurnalis, nantinya Indonesia School of Journalism memberikan paradigma baru jurnalistik.
“Mulai dari masuk gedung sudah membawa mahasiswa ke dunia jurnalistik antara lain akan ada galeri tentang sejarah koran, radio, televisi dan lainnya. Juga suasana belajarnya membawa mahasiswa ke pekerjaan sebenarnya. Sehingga mereka tahu persis kehidupan jurnalistik,” jelasnya.
Dengan konsep reporting and writing nantinya para mahasiswa juga akan menerbitkan koran, membangun online juga mendirikan pemancar radio dan televisi. “Bahkan kalau maju baik koran, online, radio dan televisi bisa dikomersilkan,” kata Hadi. Koran bukan lagi memuat berita spotnews (peristiwa) karena berita peristiwa itu sudah ada di online, maupun breaking news radio dan televisi.
Sehingga berita koran memuat depht news (mendalam kupas tuntas) sedangkan spotnewsnya hanya berita-berita pendek saja. “Demikian juga kami akan mendidik wartawan bukan hanya menulis tapi juga cara mengedit, melayout bahkan memperkenalkan dunia percetakan. Selain itu mereka juga dibekali menjadi televisi, radio dan online. Lengkapnya menjadi wartawan multimedia,” papar
Hadi. Nantinya seorang wartawan televisi juga harus bisa mengedit hasil liputannya dan menshare ke berbagai media. “Sehingga nanti jika meliput sepakbola seorang wartawan harus mampu menjadi wartawan radio, televisi dan sekaligus cetak.
Misal untuk meliput sepakbola di luar negeri, industri pers hanya menugaskan satu wartawan saja untuk membuat liputan koran, radio, televisi dan online. Sehingga industri pers bisa hemat biaya”. Ditambahkan wartawan multi media inilah yang nantinya dibutuhkan industri pers masa depan.(SP.NHO)




