Pemerinta Bukittinggi waspadai cuaca Ektrem antisipasi lahan pertanian dari kerusakan

Bukittinggi, News Hanter.com-Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Bukittinggi, Melwizardi, mewaspadai rusaknya lahan pertanian warga akibat cuaca ekstrem yang saat ini sering terjadi di daerah setempat.Kamis (11/05/23)

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Bukittinggi, Melwizardi, Pemerintah Bukittinggi secara berkala DPP melakukan pengawasan dan pendampingan ke kelompok tani hingga antisipasi dampak resiko bencana yang akan merusak lahan pertanian bisa diminimalisir.

“Sampai saat ini, Alhamdulillah belum ada dampak luar biasa terhadap sektor pertanian akibat iklim ekstrem, tapi kami melalui penyuluh tetap mendampingi petani sebagai langkah antisipasi, disiplin melakukan pengaturan jadwal tanam dan komoditas yang ditanam hingga potensi lahan rusak dan gagal panen bisa ditekan,” katanya.

Menurutnya, Pemkot Bukittinggi komitmen untuk memajukan hasil pertanian warga yang telah disesuaikan dengan misi ketujuh Wako setempat.

“Misi ketujuh Wako Erman Safar yaitu hebat dalam sektor pertanian, ini menjadi landasan komitmen DPP untuk memberikan pelayanan terbaik ke petani, jangan sampai mereka rugi termasuk karena cuaca ekstrem yang berpotensi merusak,” ujarnya.

DPP juga telah melakukan sosialisasi informasi kepada kelompok tani agar mampu memberikan informasi terkini terkait iklim yang berdampak pada sektor pengolahan persawahan.

“Disampaikan juga ke petani bagaimana gambaran prospek iklim di tahun 2023 dalam memulai produksi pangan, tinjauan outlook iklim global telah disiarkan oleh BMKG, dan pola curah hujan rata-rata bulanan di Sumatera Barat juga perlu diwaspadai petani, ada  beberapa hari terakhir tujuh pohon tumbang karenanya, perlu pengalihan genangan air dan antisipasi tanggul jebol nantinya jika cuaca ekstrem berlangsung lama,” pungkasnya.

Sebelumnya, Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari mengatakan bahwa hasil monitoring BMKG dalam 40 tahun terakhir mengindikasikan curah hujan ekstrem di Indonesia mengalami kecenderungan peningkatan, baik dalam hal frekuensi maupun intensitas.

“Tren ini mengakibatkan tingginya angka bencana hidrometeorologi yang didominasi oleh banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, serta kekeringan, berbagai kejadian ini tak lepas dari akibat perubahan iklim,” ujar Supari ( A/M )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *