Pasar Renteng, Kreativitas Pemuda Yang Mentradisi

Pasar Renteng, Kreativitas Pemuda Yang Mentradisi
Pelayanan pembelian koin bogo sebelum memasuki kawasan pasar Renteng. Inset; koin bogo.

Jawa Barat, newshanter.com – TIDAK banyak yang mengetahui embrio berdirinya pasar Renteng yang berlokasi di kampung Cibogo desa Kadugede kecamatan Kadugede kabupaten Kuningan, Jabar, terutama bagi masyarakat pengunjung dari luar kabupaten Kuningan.

Hal ini terungkap ketika komunitas Penyair Perempuan Indonesia (PPI) mengunjungi pasar Renteng di kampung Cibogo dalam rangka kegiatan Pulang ke Kampung Tradisi #6 Milampah Tapak Kuningan (01/08/2026).

Milampah Tapak Kuningan yang bertujuan mendokumentasikan dan melestarikan objek kebudayaan, kearifan lokal serta bentang alam kabupaten Kuningan melalui karya sastra puisi ini, diikuti oleh 40 penyair perempuan dari berbagai provinsi di Indonesia yang dikomandoi oleh ketua PPI, Kunni Masrohanti, penyair perempuan asal provinsi Riau.

Ajun, salah satu panitia pelaksana kegiatan pasar Renteng ketika ditanya menjelaskan bahwa pasar Renteng didirikan berawal dari para pemuda yang sering nongkrong di kawasan –yang kini menjadi lokasi– pasar Renteng.

“Dari sana muncul gagasan para anak muda ini mendirikan pasar Renteng,” ungkap Ajun sembari melayani para pengunjung membeli koin bogo untuk berbelanja kuliner Kuningan.

Menurutnya, anak muda pencetus pertama mempunyai ide mendirikan pasar Renteng adalah salah seorang pemuda yang bernama Hasan. Gagasannya didukung pula oleh para pemuda lainnya, serta pemuka adat dan pemangku jabatan pemerintahan di kampung Cibogo, sehingga terbentuklah pasar Renteng hingga kini.

Hasan, ketika dikonfirmasi disela-sela kesibukannya mengurus berjalannya aktivitas pasar Renteng membenarkan pernyataan tersebut. Kendati demikian buah hati pasangan Tosim dan Yati ini mengaku gagasan mendirikan pasar Renteng tersebut adalah kesepakatan bersama para pemuda.

“Saya hanya memberikan konstribusi gagasan awal, misal mendirikan pasar Renteng, supaya para pemuda mempunyai aktivitas yang bermanfaat untuk membangun daerah,” ujar alumni Universitas Siliwangi jurusan Sejarah ini.

Ketua PPI Kunni Masrohanti (kanan) dan penulis _rie_kys_ (kiri bertopi) mengabadikan diri di gerbang masuk arena pasar Renteng.

Hasan menjelaskan pasar Renteng adalah pasar tradisonal berkonsep tempo dulu yang unik dikolaborasi dengan pasar kuliner kekinian, penerapan pasar tradisional yang mentradisi sesuai adat istiadat Kuningan.

Tampak aktivitas di pasar Renteng, pengunjung yang ingin berbelanja sebelum masuk arena harus membeli koin “bogo” sebagai alat tukar pembayaran. Nilai 1 koin sama dengan 2.000 (dua ribu) rupiah. Koin tersebut terbuat dari kayu berbetuk bulat seukuran uang logam 100 rupiah hasil karya tangan-tangan anak muda. Apabila koin masih berlebih usai berbelanja, koin dapat ditukar kembali menjadi uang sesuai jumlah yang tersisa.

Di pasar Renteng, pengunjung tidak hanya bisa membeli kuliner tradisional dan kekinian, tetapi penjual juga menjajakan kerajinan tradisional lainnya. Seperti topi dari pelepah daun kelapa, keranjang atau tas dari bambu, gantungan kunci dan aksesoris lainnya.

Di arena pasar Renteng juga terdapat panggung khusus penampilan seni budaya Kuningan, musik tradisional, pembacaan puisi oleh para penyair, seni beladiri dari Sinar Pusaka untuk menyambut para pengunjung pasar Renteng.

“Gagasan mendirikan pasar Renteng ini salah satunya untuk melestarikan tradisi budaya masyarakat Kuningan tempo dulu,” ujar Hasan mengakhiri pembicaraan. (_*rie_kys*_)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *