Oleh Erryl Putra Prima Agoes
Pada Jum’at 17 April 2014, Menpora mengeluarkan SK Nomor : 01307 tahun 2015 tentang Pengenaan Sanksi Administratif Berupa Kegiatan Keolahragaan PSSI Tidak Diakui. Sabtu 18 April 2015 di Hotel JW Marriot Surabaya, PSSI menyelenggarakan gerakan Kongres luar biasa diikuti 106 pemilik hak suara melakukan voting dan memilih La Nyalla (dapat 92 suara mengalahkan calon lain) menjadi Ketum PSSI 2015-2019, menggantikan Djohar Arifin. Sebagai tindak lanjut dari SK tersebut, pada Kamis 23 April Menpora menyurati Kepolisian agar tidak menurunkan/mengeluarkan izin keramaian untuk pertandingan Indonesia Superleague (ISI).
Atas pembekuan seluruh kegiatan PSSI ini, Menpora akan membentuk Tim Transisi yang bertugas mengambil alih seluruh kegiatan, mempersiapkan Kongres hingga terbentuknya kepengurusan PSSI baru. Diinformasikan pada Minggu Kedua Mei ini, nama 17 orang anggota tim transisi akan diumumkan dan segera bekerja sesuai penugasannya. Dengan pembekuan tersebut tentu saja mengundang pendapat pro dan kontra berdasarkan sudut pandang serta kepentingannya; tetapi ada pula kalangan yang acuh tak acuh terhadap hal itu karena memang sudah sejak lama prestasi pesepakbolaan tidak bisa dibanggakan. Sebagian publik justru mengagumi, hafal dan memuha persepakbolaan negara lain, karena memang layak untuj ditonton/dinikmati permainannya hingga dijadikan idola.
Tulisan berikut tidak akan membahas mengenai teknis persepakbolaan, nasib dan keadaan stake holder, hasil kerja tim, akan tetapi menyoroti hal-hal yang jarang ditampilkan ke publik. Yakni yang sebenarnya sudah diketahui dan masih terus beralngsung; justru menjadi biang keladi tidak bisa dibanggakannya persepakbolaan nasional meski selalu disebut sebagai olahraga paling populer masyarakat.
Sebagaimana diketahui melalui sejarah bahwa PSSI adalah organisasi keolahragaan yang didirikan pada tanggal 19 April 1930, yakni jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Kini dalam usia 85 tahun pada tahun 2015, mendadak dibekukan dan baru kali pertama terjadi sehingga jelas menjadi momentum yang mengejutkan bagi seluruh pecinta sepakbola. Dalam usia seperti itu, untuk ukuran seorang manusia mungkin sudah kategori renta, banyak kekurangan kesehatanya, mulai sakit-sakitan shingga kelemahan lainnya. Tapi untuk ukuran sebuah organisasi keolahragaan, seharusnya sudah sangat dewasa serta mapan dalam kehidupan manajemennya. Sebab bilangan usia 85 tahun, cukup untuk menggambarkan bagaimana perjalanan lika-liku sejarah jagad sepakbola nasional dari masa penjajahan dan pergerakan pemuda melawan penjajah, masa awal kemerdekaan, masa orde baru, masa reformasi hingga sekarang.
Jika memang sampai sekarang perkembangan dan prestasi sepakbola belum bisa dibilang membanggakan, maka itu sebenarnya bukan cuma salah dan tanggungjawab PSSI saja; tetapi menyangkut seluruh pihak yang berkepentingan langsung maupun tidak langsung dengan persepakbolaan. Meski tentu saja orang-orang PSSI lebih dituntut untuk bertanggungjaawab atas kondisi serta prestasi, karena mereka bersedia/mau jadi pengurus yang awal kepengurusannya berniat janji “tidak akan mengkuruskan”’ tetapi kenyataannya justru dijadikan kesibukan sebagai ladang penghidupannya. Hal ini sebagaimana terlihat dari kepengurusan yang diisi orang-orang itu saja, tapi bisa jadi membawa angin segar menuju perkembangan professional berprestasi.
Mengapa banyak orang lama hingga puluhan tahun berusaha tetap jadi pengurus, meski tanpa prestasi dan hanya mengumbar konsep dan janji-janji bags terus menerus? Bagi para pemerhati tentu sudah paham bahwa, dalam industri sepakbola yang kerap ditutupi dengan argumen professional atau cari-cari alasan lain; terjadi perputaran uang ini amat sangat besar yang sejatinya justru menjadi permainan asli dari sepakbola di lapangan. Perputaran uang dalam industri sepakbola bisa diinventarisir paling tidak (bisa dibuktikan dan atau sulit pembuktiannya, meski bisa dirasakan jalan logikanya) bisa berasal terendus dari:
1. Bantuan dari pemerintah yang tidak pernah besar, sehingga tidak semua perkumpulan atau klub bisa menerimanya; maupun bantuan/sumbangan dari pihak lainnya.
2. Dari para sponsor dalam berbagai bentuk dan macamnya.
3. Hasil penjualan tiket pertandingan yang bisa dikatakan tidak pernah merugi.
4. Dari hasil spekulasi (perjudian?) yang modus variasinya dapat berupa:
a. Pengaturan skor sebelum pertandingan dimulai.
b. Berdasarkan atau tergantung kepada hasil skor akhir pertandingan.
c. (sulit dibuktikan tetapi bisa dirasakan) pihak-pihak yang saling bertaruhan atas suatu pertandingan.
Besarnya perputaran uang yang secara akuntabel sulit dihitung akurasinya (apalagi tidak transparan) dalam persepakbolaan tersebut, tampaknya menjadi penyebab utama untuk lamanya orang bercokol melalui kepengurusan sepakbola. Boleh jadi pendapat/argument tersebut dibandah dengan membandingkan dengan klub sepakbola di Eropa misalanya. Maka justru disitulah letak perbedaannya.
Di manajemen industri sepakbola, bisa dipastikan perputaran uangnya sangat besar, tetapi “besarnya perputaran” itu bisa dimengerti karena pengelolaanya professional dengan didukung prestasi yang saling bersaing, bisa ditonjolkan serta menjadi tontonan hiburan menarik masyarakat luas. Jadi prestasi sebagai tujuan (disamping tujuan lainnya) utama dalam persepakbolaan itu seharusnya yang lebih di/mengedepan untuk ditampilkan secara riil, sehingga aspek lainnya dapat terpicu professional berbareng mengikutinya.
Sudah banyak para ahli komentator mengemukakan bahwa rentetan terkaitnya menuju prestasi adalah dimulai dari kualitas sumberdaya manusia pemain, pelatih serta kepengurusan yang baik. Sekaligus dukungan dana, stake holder lainnya dan yang tidak bisa dikesampingkan adalah dorongan semanga dari supporter.
Khusus kepengurusan ini selayaknya berpedoman terhadp prinsit the right man in the right place, yang tahu diri atas kontribusi riilnya dalam memajukan meraih prestasi. Jika berprinsip sedemikian itu, maka sebenarnya memang tidak terlalu jadi persoalan lamanya oknum jadi pengurus. Tetapi jika telah bercokol lebih dari 5 tahun ternyata tidak menunjukkan kemajuan kinerja berprestasi membanggakan, yang bersangkutan selayaknya tahu diri untuk digantikan oleh orang lain; jangan malahan bertahan untuk dijadikan bahan pencairan nafkah.
Akhirnya pada Jumat 8 Mei 2015 Menpora mengumumkan 17 nama anggota tim Transisi, yang berasal dari berbagai kalanganlatar belakang profesi; dan tidak ada satu nama pun dari Pengurus PSSI La Nyalla maupun dari Kemenpora. Bersamaan dengan pengumuman tersebut, sekaligus ditunjukan program kerja yang harus dilaksanakan tim Transisi serta Road Map PSSI hingga 2025. Disampaikan pula bahwa tidak ada tagline atau batas waktu kerja tim; dan pada Senin 11 Mei 2015 ketujuh belas nama tersebut dipanggil/datang ke kantor Kemenpora untuk diberikan penjelasan mengenai segala sesuatunya yang terkait, sekaligus mulai bekerja mengambil alih seluruh kewenangan/kegiatan PSSI hingga terbentuknya kepengurusan baru yang diakui oleh pemerintah. Namun sangat disayangkan empat diantara nama tersebut kemudian mengundurkan diri; sehingga tinggal 13 orang yang akhirnya memilih Bibit Slamet Riyanto (Mantan pimpinan KPK) menjadi Ketua Tim Transisi.
Atas terbentuknya tim transisi tersebut, pihak kepengurusan La Nyalla langsung menyatakan: tidak ingin segera memberikan tanggapn atau komentarnya. Sedangkan dari kalangan masyarakat persepakbolaan juga belum terdengar komentatornya, melihat munculnya nama-nama tak terduga serta beragamnya latar belakang mereka (ada mantan pemain/pelatih, pengusaha, kepala daerah, mantan anggota KPK dan lain sebagainya)sehingga memang agak sulit diberikan prediksi/penilaiannya sekarang. Hanya yang bisa dipastikan adalah, ke 13 nama tersebut oleh publik telah dikenal sebagai pecinta sepakbola nasional. Alhasil tidak ada pilihan lain kecuali wait and see atas kerja tim transisi, yakni nantinya akan mampu membenahi/memperbaiki jalan persepakbolaan ataukah justru memicu timbulnya kekisruhan berikutnya.(NH0)





