Kuningan, newshanter.com – TAK ada sampah. Tak terlihat bekas puntung rokok. Tak tampak daun kering yang berserakan meski banyak pepohonan. Bersih dan rapi. Itulah penampakan ketika kami pertama kali menginjakan kaki di kampung adat Majalaya beberapa waktu lalu.
Di ujung timur Kuningan, terdapat sebuah kampung yang bernama Kampung Adat Majalaya. Tepatnya di desa Dukuh Badag kecamatan Cibingbin kabupaten Kuningan provinsi Jawa Barat.
Untuk mengunjungi kampung Majalaya, terdapat tiga jalur. Kami yang tergabung dalam komunitas Penyair Perempuan Indonesia (PPI) masuk lewat jalur utama melalui pemakamam umum desa Dukuh Badag dan bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.
Jalur lainnya masuk lewat areal pemukiman besar, melalui jembatan kecil yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Kemudian jalur hutan (tengah) melalui peternakan sapi Pasundan dan pengolahan pupuk dari kotoran sapi.
Kami dari komunitas PPI berjumlah 28 orang yang dikomandoi ketua PPI, Kunni Masrohanti, tiba di kampung Majalaya sekitar pukul 11.00 wib, lebih cepat dari jadwal yang sudah diagendakan sebelumnya. Kondisi ini saya manfaatkan untuk melihat lebih dekat berkeliling kampung dengan menggunakan sepeda motor milik salah satu warga.
Tak ada gaduh. Tanpa keriuhan. Sunyi dan sepi. Rumah-rumah berjejer rapi. Tampak bersih. Tak terlihat anak-anak bermain dipekarangan rumah. Atau ibu-ibu berbincang-bincang dengan tetangga.
Entah kemana mereka. Apakah sudah menjadi kebiasaan mereka hari-hari. Atau karena akan ada kehadiran para penyair perempuan se-Indonesia, sehingga mereka sudah berkumpul di lokasi acara dan arena penyambutan.
Setiap sudut kampung, lorong-lorong, hingga hampir ke perbatasan kampung Majalaya, saya telusuri ditemani derit rem sepeda motor yang pedalnya ditekan terasa jauh nyaris membuat remnya blong.
Mirip Desa Tradisional Korsel
Sejenak saya teringat suasana kampung adat Majalaya nyaris sama dengan kampung folk village, desa tradisional di Korea Selatan yang pernah saya kunjungi sebagai backpacker puluhan tahun lalu, sama-sama mempertahankan tata letak leluhur yang ketat.
Di Majalaya jumlah rumah dibatasi ketat hanya 40 unit dengan posisi bangunan diatur menghadap arah tertentu (utara-selatan atau timur-selatan). Desa tradisional Korea (hanok village) mengatur posisi rumah berdasarkan prinsip feng shui tradisional Korea (pungsu), menghadap ke selatan atau tenggara, membelakangi gunung dan menghadap ke arah sungai.
Masih banyak lagi kesamaan kedua kampung adat tradisional ini yang bisa kita kupas tuntas secara detil dan mendalam, sistematis, terperinci serta akurat dalam kupasan jelajah kampung adat pada tulisan selanjutnya.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa kampung Majalaya dahulunya pernah berada dalam kondisi terisolasi. Keterpencilan wilayah ini dipengaruhi oleh letak geografis serta faktor keselamatan warga akibat adanya pergeseran tanah di sekitar kawasan pada masa itu yang mengharuskan sebagian warga mengungsi.
Namun walaupun sempat terisolasi, kampung adat Majalaya tetap kokoh menyimpan kekayaan tradisi, kearifan lokal dan kehidupan masyarakat Sunda yang menjaga warisan keluhur.
“Alhamdulillah saat ini kampung Majalaya tidak lagi terisolasi sepenuhnya dan mulai dikenal luas. Bahkan menjadi lokasi kunjungan apresiasi budaya dan sastra,” ujar kepala desa Dukuh Badag, Suyoto Adi Ardiwinata, disela-sela kegiatan acara pulang ke kampung tradisi #6 yang digelar Penyair Perempuan Indonesia beberapa waktu lalu dengan tema Milampah Tapak Kuningan.
Kehadiran para penyair perempuan ini agar sama-sama menjaga dan melestarikan tradisi budaya Majalaya. “Kami mencatat, melihat dan menulis dalam bentuk puisi,” ujar Kunni yang juga pengurus PWI Pusat.
Kendati belum dibangun, tetapi sudah ada perencanaan pembangunan khusus rumah adat Majalaya yang bisa dinikmati oleh para wisatawan di kemudian hari.
Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal
Kehidupan sosial di Kampung Majalaya sangat lekat dengan nilai-nilai budaya Sunda buhun (tradisional) yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu daya tarik utama dari kampung ini adalah struktur perkampungannya yang sangat terjaga. Jumlah unit rumah di dusun ini tercatat relatif tetap (sekitar 40 unit rumah) dan tidak mengalami perubahan drastis sejak dahulu demi mempertahankan keaslian ruang hidup komunal.
Hasil laporan survei penyair perempuan, Rini Intami, yang juga sekretaris PPI, bahwa sistem kekerabatan & gotong royong, kekeluargaan antar warga sangat kuat. Nilai silih asah, silih asih, silih asuh diterapkan secara nyata dalam aktivitas keseharian, terutama dalam tradisi gotong royong membangun rumah, menggarap lahan, hingga pelaksanaan hajatan desa.
Dalam bidang kesenian dan religi. Nilai-nilai spiritual dipadukan secara harmonis dengan kearifan lokal adat istiadat buhun, menjadikan tradisi lisan dan upacara adat daur hidup (seperti pertanian dan pernikahan) tetap terpelihara di tengah modernisasi.
Kelestarian alam dan keharmonisan sosial di Kampung Majalaya dapat bertahan hingga kini berkat sistem kearifan lokal yang dipatuhi bersama. Masyarakat memandang alam bukan hanya sebagai sumber daya ekonomi, tetapi sebagai mitra hidup yang harus dihormati. Pemanfaatan hasil hutan dan lahan dilakukan secara bijak tanpa merusak ekosistem hutan atau daerah tangkapan air.
Pola bercocok tanam yang selaras dengan musim serta pemeliharaan ternak tangguh seperti Sapi Pasundan mencirikan sistem ketahanan pangan lokal yang tahan terhadap gejolak ekonomi luar.
Gaya hidup masyarakat yang bersahaja, apa adanya, dan tidak berlebihan menjadi benteng pertahanan utama dalam menjaga keutuhan nilai budaya dari arus modernisasi negatif.
“Kampung Adat Majalaya merupakan aset kebudayaan dan aset genetik peternakan yang amat berharga. Kombinasi antara terjaganya arsitektur permukiman tradisional, kelestarian tradisi gotong royong, keberadaan budidaya Sapi Pasundan, serta kuatnya kearifan lokal menjadikan kawasan ini memiliki nilai strategis tinggi bagi pariwisata budaya berbasis kerakyatan, ujar Rini yang namanya sudah go international dalam dunia sastra. (rie-kys)





