Jakarta.Newshanter.com,- Aksi unjuk rasa bertajuk Aksi Bela Rakyat 121 yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabodetabek di Jalan Medan Merdeka Barat telah usai dan berjalan tertib. Namun para mahasiswa ‘meninggalkan’ ancaman. Massa membubarkan diri sekitar pukul 20.05 WIB. Namun para mahasiswa mengancam akan menggelar demo yang lebih besar jika tuntutan mereka hanya dianggap angin lalu.
“Bahwa kita harus menjaga nafas gerakan kita hari ini,” kata salah seorang orator dari atas mobil komando di lokasi, Kamis 11 Januari 2017.
Dari pantauan, Jalan Medan Merdeka Barat ke Jalan Gajah telah dibuka dan dapat dilalui kendaraan roda empat kembali. Sebelum membubarkan diri, orator massa 121 dari atas mobil komando mengancam akan kembali melakukan aksi unjuk rasa yang lebih besar, apabila pemerintah tidak merespon lebih lanjut hasil pertemuan dua orang perwakilan mereka hari ini di dalam Istana Negara.
Bahkan, mereka mengancam akan menuntut sidang istimewa di Gedung DPR/MPR bila tuntutan mereka ternyata dianggap angin lalu. “Kami akan kembali lagi dengan massa yang lebih banyak. Perjuangan kita masih panjang, kita akan buat sidang istimewa di Gedung DPR/MPR,” ujarnya mengancam.
Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi M Iriawan mengatakan, bahwa aparat Kepolisian akan mengawal mereka pulang usai membubarkan diri. “Kita akan memberikan pengawalan,” kata Iriawan di lokasi.
Sebelumnya para pendemo, akhirnya diterima pihak Istana. Presiden Joko Widodo mengutus Kepala Staf Presiden, Teten Masduki untuk menemui para pendemo tersebut.
Deputi IV Kantor Staf Presiden Eko Sulistyo mengatakan, ada tiga perwakilan mahasiswa BEM Seluruh Indoensia (SI) yang diterima.
“Ada tiga perwakilan yang kita terima dan sempat berdialog dengan kepala staf. Intinya ingin ketemu Presiden, namun Presiden sudah menugaskan kepala staf untuk menerima mahasiswa,” ujar Eko di Istana Negara, Jakarta.
Ada empat poin yang disepakati dari pertemuan itu. Bahkan, ditandatangani di atas kertas oleh kedua pihak baik dari pemerintah maupun dari perwakilan demonstran.
Eko menjelaskan, keempat poin kesepakatan itu. Pertama, pemerintah menjamin tidak akan terjadi kelangkaan BBM di SPBU-SPBU seluruh Indoneisa. “Dalam dialog mahasiswa menerima laporan masyarakat terjadi kelangkaan BBM di beberapa daerah. Dia tidak menyebut daerahnya,” kata Eko.
Sebenarnya, lanjut dia, pemerintah ingin tahu daerah mana yang langka itu. Agar, segera diambil tindakan. Bahkan, kata Eko, saat itu juga Kepala Staf Presiden Teten Masduki langsung menghubungi salah satu direktur Pertamina untuk memastikan informasi kelangkaan BBM tersebut.
Kedua, disepakati agar dampak kenaikan BBM non-subsidi tidak akan menyebabkan kenaikan harga bahan pokok lainnya. Eko mengatakan, dalam hal ini Kepala Staf Teten Masduki mengatakan pemerintah terus melakukan monitor harga-harga di pasaran.
Ketiga, disepakati pencabutan subsidi pada pelanggan 900 VA (Volt Amper) untuk dialihkan ke yang subsidi 450 VA, tepat sasaran. Kata Eko, ini untuk memastikan apa yang diinginkan pemerintah juga, agar yang subsidi benar-benar tetap sasaran.
“Ada juga ajakan dari kepala staf agar mahasiswa benar-benar turun memastikan, mengecek dan melaporkan kepada pemerintah dalam hal ini PLN ketika menemukan apa yang tadi disampaikan dijamin kepala staf ada pelanggaran di lapangan,” katanya.
Keempat, mengenai tarif pengurusan STNK dan BPKB terutama di Kepolisian. Mahasiswa berharap, kenaikan ini juga bisa meningkatkan kualitas pelayanan.
Disepakati juga, kita dalam waktu tertentu tidak ada perbaikan pelayanan, pemerintah siap menerima kembali mahasiswa. “Dan jika selama tiga bulan ditemukan pelanggaran dan kesalahan di lapangan, mahasiswa siap menegur dan mengingatkan pemerintah.”
Polwan ikut jaga aksi 121 di Jalan Medan Merdeka Jakarta
DAlam demo itu lantaran tidak bisa dikompromikan, puluhan polwan itu mundur dan mahasiswa selanjutnya menyerang polisi laki-laki yang berada di barisan kedua setelah Polwan. Saat dipukul secara membabi buta ke arah punggung dan wajah, tak ada satu pun polisi yang melawan.
Kejadian ini berjalan selama kurang lebih dua menit. Aksi ricuh ini bisa dilerai dengan bantuan Kapolres Metro Jakarta Pusat dan Dandim. Setelah dilerai, barisan pengaman pun diganti dengan polisi yang menggunakan tameng.
Pantauan di lokasi, bentrok antara aparat kepolisian dengan massa ini terjadi di dua titik, yakni di depan pintu gerbang Monas utara Jalan Medan Merdeka Utara dan depan RRI.Ratusan massa membalas tembakan gas air mata yang dilepaskan polisi menggunakan batu, dan kayu.
Sebanyak dua warga, dan satu orang anggota polisi terluka dalam bentrok yang masih berlangsung tersebut. Para korban luka dibawa langsung ke mobil ambulans guna mendapatkan perawatan.(BB/01)






