Rini Intama
UPACARA SEREN TAUN DI CIGUGUR
di sela lesung yang bertalu
sepi membaca arah angin
kita adalah sebutir padi yang gemetar di tangan waktu
di mana tanah bukan sekadar tempat bersujud
tapi rahim yang menyusui silsilah
juga sukma yang memelihara semesta
katamu saban taun adalah menjahit kembali kain langit
yang robek oleh serakah manusia
mengingat leluhur bukan memanggil masa lalu
tapi mengundang mereka duduk di beranda hari ini
menyaksikan apakah air mata dan keringat masih sama
dan kita menjaga nyala api itu di dada
agar tidak padam ditiup badai yang pongah
sebab adat adalah sebatang pohon tua
yang akarnya memeluk rahasia bumi Kuningan
daun-daunnya adalah doa yang rimbun
padi ditumbuk dan mantra diucapkan tanpa suara
kita tahu, hidup adalah perayaan tentang fana
yang dirawat dengan cinta
dan seren taun selalu datang seperti rindu
yang tak pernah terlambat diucapkan
***
Rini Intama
PESAN CIREMAI
matahari membakar puncak Ciremai
dan di bawahnya dada kita berdegup
kabut meliuk bagai penari memanjat langit
menyampaikan kabar pada jenggala
tanah ini dikepung mantra
airnya dikunci doa
bersetubuh dengan sunyi
yang menjaga detak bumi
batu-batu tak mengutuk waktu
tapi melarung segala benci
Kuningan, Juni 2026
***
Rini Intama (lahir di Kabupaten Garut, Jawa Barat 21 Februari) adalah sastrawati berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya dalam bentuk novel, cerita pendek, dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar. Selain itu juga terhimpun dalam berbagai antologi. Rini kerap terpilih menjadi peserta perhelatan sastra nasional dan internasional antara lain Pertemuan Penyair Indonesia Dari Negeri Poci, Pertemuan Penyair Nusantara, Borobudur Writers and Cultural Festival, Festival Sastra Tanjungbintan, International Poetry Festival Tegal Mas Island. Nama dan kiprahnya tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia terbitan Yayasan Hari Puisi 2018.
*(_rie-kys_)*


