Budaya Menulis Ciujung

Budaya Menulis Ciujung

Oleh: Rully Ferdiansyah 

Ketika saya baru menerbitkan novel pertama saya, dan mulai aktif mengisi kolom kebudayaan di surat kabar lokal, saya diperkenalkan dengan seorang aktivis lingkungan hidup. Dia penggemar karya-karya saya, berasal dari Desa Tengkurak, namanya Anton dan dia tokoh pemuda yang disegani di desanya, dan saya diminta bantuan olehnya. Keahlian menulis saya dibutuhkan, untuk membangun narasi” yang logis, dalam rangka melestarikan alam di hilir Sungai Ciujung. Maka dari itu saya diharapkan bisa“mengarahkan atau membina para pemuda di Tengkurak terkait ilmu menulis. Kami kemudian membuat janji pertemuan untuk diskusi lebih lanjut. Tergeraknya hati untuk membumikan budaya”menulis, di masyarakat desa, membuat saya bersemangat, dan sebelum kau sadari, kau pun sekonyong berada dalam sebuah petualangan. Seperti Don Quixote yang merindukan petualangan di lapangan. Itulah saya, perkenalan saya dengan Anton menjadi awal perjalanan saya bersinggungan dengan perusahaan Indah Kiat, yang mencemari Sungai Ciujung dengan limbahnya.

Senjata kami dalam kasus limbah pabrik kertas ini, bukan dengan logistik finansil dalam adu kasus d pengadilan, tapi dengan senjata tulisan investigasi sesuai standar akademis. 

Keluarga saya sendiri saat itu tidak mendukung pekerjaan saya, sebagai penulis, saat ibu saya menghendaki, agar saya bisa bekerja dengan penghasilan besar sepeti halnya para pejabat di pemerintah daerah. Saya bisa mengerti keraguan mereka, saya memang lahir dari “anak kandung birokrasi, dengan ayah yang bekerja sebagai pegawai di Kementrian Transmigrasi era Presiden Soeharto. Sedangkan ayah saya tak pernah mencoba memberikan rekomendasinya, agar saya bisa bekerja di pemerintah, dengan berkata, “Berusaha dengan kemampuanmu sendiri, saya bisa menjadi pejabat pemerintah dengan kemampuan saya.” 

Saya sebetulnya, sudah sering mengikuti test penerimaan pegawai negara, tapi saya lemah dalam ilmu matematika dan psikotes. Saya tak pernah diterima. Saya juga sempat melamar kerja di perusahaan Jepang, yang memproduksi mobil alat berat, yang berada di Bekasi, lamaran itu saya kirimkan melalui Email. Waktu itu saya yakin lamaran saya akan diterima. Direkturnya adalah paman saya dan penerimaan ini berdasarkan pertimbangan kekeluargaan, menjaga hubungan baik, Namun ternyata, yang saya dapat bukanlah panggilan wawancara. 

“Paman saya yang direktur” ini malah menghubungi ayah saya. Lalu keesokan harinya, ayah saya berkata pada saya, “Sepertinya kau mengirim lamaran ke Pabrik Hanken, itu bagus. Tapi saya tidak merekomendasikanmu, saya sudah bilang pada pamanmu, kalau kamu punya kelemahan, fisikmu gampang lelah untuk bekerja di pabrik, saya tak ingin menanggung malu. Kau bisa maklum dengan sikap saya, kan?” 

Maka akhirnya ayah saya secara diam-diam mendukung pekerjaan menulis saya. Dia ayah yang baik, tapi selalu kalah dengan isterinya, dan dia tidak berdaya melakukan apa pun untuk menghentikan tindakan-tindakan brutal isterinya terhadap saya. Kala itu, saya harus selalu bersabar dengan perkataan ibu saya yang berkata “lihat anak tetangga tuh, yang sukses keterima menjadi PNS (pegawai negeri sipil),” tapi saat ibu saya sedang tidak ada, ayah saya akan berkata, “Sabarlah, jangan mendebat ibumu.” Tekanan keluarga ini memiliki beberapa fase. “Perkataan brutal” menjadi “cemoohan sinis,” hingga kemudian menjadi “diam membisu dengan wajah cemberut.” 

Diamnya ibu saya ini, diakibatkan keberhasilan saya, dalam membeli rumah tipe sederhana dari hasil menulis. “Saya pikir keberhasilan seorang anak itu adalah saat ia bisa membawa ibunya naik haji di tanah suci,” kata ibu saya dalam menanggapi capaian saya, ia pun langsung pergi ke halaman belakang untuk menyiram tanaman. Saya pun menggelengkan kepala dan ayah saya lalu menghampiri saya, berkata: “Saya turut bangga denganmu, sekarang kau bisa bebas dari sikap kasar ibumu, tinggal di rumah barumu. Saya doakan, kau menjadi penulis sukses.” 

Sejak itulah, saya mulai mencurahkan diri saya dalam dunia literasi. Dan Anton tampaknya menyadari, dengan pengertian yang dalam, bahwa pergaulannya dengan saya sebagai pelaku literasi, akan memberi masyarakatnya sebuah suara yang bisa didengar pemangku kebijakan. Semua narasi kajian akademis yang saya buat, dijadikan Anton sebagai laporan ke kantor Ornop (organisasi non pemerintah) ternama di Jakarta. Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Nasional, itulah nama ornop yang diajak kolaborasi oleh Anton. Ornop ini bergerak dalam bidang advokasi, pendampingan hukum bagi masyarakat marjinal yang diperlakukan tidak adil oleh otoritas dan korporat. Ornop Walhi punya jejak rekan yang bagus, terkenal konsisten, di tengah segala tantangan dan godaan iming-iming.

Dengan dasar tulisanku, Walhi menyebarkannya dengan memuatnya dalam jurnal dan selebaran yang mereka cetak, disebarkan di lingkup jejaring mereka. Desa Tengkurak, sekonyong mendapat perhatian serius dari pihak Walhi, dijadikan prioritas untuk diselesaikan, sehingga pihak Walhi sering menerjunkan tim investigasi untuk melacak akar permasalahan di Tengkurak, sampai menyusuri Sungai Ciujung hilir, demi menemukan sumber pembuangan limbah perusahaan dengan dikawal saya dan Anton. Dari hasil investigasi itu, saya dan Anton dibantu Walhi untuk membuat laporan pengaduan ke kantor Kementrian Lingkungan Hidup. Begitu laporan sudah dibuat dengan rapi, Anton mengeluh tak punya ongkos ke Jakarta untuk menyampaikan laporan tersebut ke kementrian. Saya kemudian berinisiatif, untuk mencari dana operasional, meminta kepada kenalan akademisi di Universitas Tirtayasa. Untuk kepentingan umum, tak sulit bagi saya, untuk mendapatkan bantuan, “Dengan senang hati bisa membantu,” demikianlah yang dikatakan kenalan akademisi ini, “Pergilah, jangan sungkan untuk meminta lagi pada saya kalau kau memerlukan bantuan.”

Kami berdua akhirnya bisa pergi ke Jakarta, menyerahkan “laporan limbah” atau “aib pemerintah daerah” ke bagian pengaduan di kementrian. Kami tidak sendirian di sana. Dua orang dari pihak Walhi, ikut mendampingi kami, membantu mempresentasikan laporan pihak kementrian. Laporan kami ditindaklanjuti dengan investigasi dari kementrian, untuk memastikan kebenaran dari laporan kami yang selang beberapa minggu kemudian, pihak kentrian mengeluarkan surat sanksi administrasi bagi Indah Kiat karena terbukti mencemari lingkungan, dan Anton pun berkata pada saya, ” Luar biasa, kau harus membuat berita untuk kejadian ini. Dunia harus tahu, publikasikan segera.”

Saya lalu menatap Anton lekat-lekat, berdeham dan berkata, “Saya cuma bisa memuatnya di media online atau di medsos. Di media cetak saya cuma diberi kesempatan menulis tentang budaya, bukan kasus hukum.”

Anton tidak mempermasalahkannya dan surat sanksi itu akhirnya ditebitkan di media online yang juga tetap menimbulkan kehebohan. Surat tersebut, keluar pada tanggal 22 Mei 2015, pihak dinas lingkungan hidup dan manajemen Indah Kiat sekonyong ingin bertemu dengan komunitas untuk mediasi.

Beberapa minggu kemudian, pihak perusahaan melakukan mediasi dengan kami di kantor dinas lingkungan hidup kabupaten, pihak perusahaan berkata, “Tidak cuma perusahaan kami saja… yang membuang limbah ke sungai. Oh, kami sudah melakukan perbaikan sistem pengolahan limbah. Pihak pemeriksa dari kementrian, sudah memeriksanya ke tempat kami beberapa hari yang lalu.” Saya dan Anton cuma tersenyum saja. Sedangkan dari pihak Walhi, ia langsung berseru, “Bagus,” lelaki yang kedua telinganya ditindik ini kemudian melanjutkan “Kami berharap, perubahan pengolahan limbah ini, tidak cuma saat kedatangan pihak kementrian!” Dan seorang tim humas perusahaan sekonyong mengajukan keberatan, bahwa yang seharusnya dinyatakan berasalah bukan cuma Indah Kiat.

Kami bersama tim pendamping dari Walhi tidak menggubrisnya. Pihak dinas merasa tergugah dengan sikap konsisten kami, sehingga mereka pun meminta untuk dibantu, untuk didampingi pada masyarakat terdampak limbah. Maka, kami bawa mereka ke Desa Pontang, dan mempertemukan mereka dengan anak-anak di Taman Bacaan masyarakat, yang biasa dijadikan tempat saya mengajar literasi bercerita. Di tempat itu, Yani selaku Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup, memohon maaf pada anak-anak di hadapannya karena perbuatan Indah Kiat, yang sudah mencemari lingkungan mereka tinggal, sampai sawah menjadi gagal panen akibat limbah. Yani kemudian memandangi wajah anak-anak itu dengan wajah yang pucat, mulutnya bergetar, mengatakan, “Apa yang sekarang kalian inginkan, mintalah, jangan sungkan.” Semua anak-anak terdiam, bingung akan apa yang diminta dengan pikiran polosnya, sekaligus minder melihat pejabat berseragam dinas di hadapan mereka. Saya akhirnya angkat tangan. Berbicara lantang, mewakili anak-anak didik saya. “Minta buku,” kata saya, “sekarang mencerdaskan anak – anak adalah suatu keutamaan untuk korban limbah, agar mereka punya skill untuk kehidupan yang lebih baik.”

Permintaan saya dicatat dan sayangnya buku untuk anak- anak tak pernah diberikan, Anton pun cuma tertawa mengetahui hal itu, dia menjelaskan, pihak dinas sudah biasa ingkar janji dan saya tidak perlu heran akannya. Dia kemudian bercerita, tentang pengalaman temannya, waktu hendak melakukan penelitian di Ciujung pada tahun 2009. untuk kebutuhan akademik di Universitas Gadjah Mada. Mereka kemudian mengajukan proposal kepada pihak dinas. Hasilnya, malah tidak diizinkan.

“Dulu, sebelum kita bergerak di kasus Ciujung, Indah Kiat juga pernah dituntut ganti rugi beberapa miliar, karena dampak pencemaran yang mereka timbulkan. Namun, tak pernah terealisasi.”

“Apa yang terjadi?” tanya saya.

“Ada dugaan kuat bahwa orang yang mengurus kasus ini sebelumnya sudah masuk angin dan kau bisa yakin kalau saya takkan pernah meninggalkan kasus ini.”

“Sekuat itukah Indah Kiat?”

“Kau tentu takkan mempercayainya, bila saya menjelaskannya, ya kan? Tapi hasil penelitian menunjukkan: Indah Kiat selama ini memberi uang tutup mulut ke pemerintah. Tidak heran, kalau rekan-rekan peneliti di bagian geografi lingkungan tak pernah mendapat ijin penelitian. Ini benar-benar terjadi.”

“Kemudian limbah kembali mencemari sungai?”

Anton menggelengkan kepalanya dan mendeham sebelum berkata, “Itu takkan terjadi di masa kita sekarang, terutama saat kita mendapat undangan menghadiri acara Kongres Sungai Indonesia di Kabupaten Banjarnegara.”

Undangan ini kami dapat dari Walhi, yang dari undangan ini kami mulai diharapkan kehadirannya sebagai “komunitas peduli lingkungan hilir Sungai Ciujung.” Seperti yang terjadi sebelumnya, Anton mengeluhkan tak punya ongkos dan saya kembali mencari uang operasional, yang kemudian saya dapat dari rekan akademisi di Universitas Tirtayasa. Dari uang yang didapat, kami berencana melakukan perjalanan dengan kereta api.

“Apa kamu pernah melakukan perjalanan jauh seperti sekarang?” tanya Anton. “Ini pertama kalinya buat saya. Sekarang saya minta padamu, kau harus mencatat semua pembekalan yang kita dapat di sana dan mempublikasikannya.”

Namun sebelum berangkat ke Banjarnegara, mendadak seorang pihak humas Indah Kiat memaksa ingin bertemu dengan kami berdua. Pertemuan diadakan di sebuah kafe, dan saat kami meminum kopi yang dipesankan oleh pihak humas, sekonyong pria itu mengeluarkan amplop cokelat tebal, yang ternyata berisikan uang berwarna merah pecahan seratus ribu. Pria itu, merupakan pria yang sama saat mediasi di kantor dinas, dia menjelaskan bahwa uang yang dibawanya sekarang, adalah titipan dari perusahaan untuk diberikan pada kami sebagai bentuk apresiasi. “Sebelum kalian menerimanya, pihak perusahaan berpesan agar kalian membubuhkan tanda tangan kalian di surat yang saya bawa!”

Anton tampak kebingungan. Sorot matanya, menunjukkan akan gelagat tergiur atas tawaran pria itu. Namun saat ia menoleh ke arah saya, ia menundukkan kepalanya karena malu. Anton terpaksa menolak tawaran uang itu, dan pria itu tetap menggoda kami dengan mengatakan, penerimaan uang dari perusahaan takkan mengganggu pergerakan kami. Maka tak ada yang perlu dicemaskan, bahkan pria itu berusaha menggoda saya, berkata: “Saya dengar Pak Rully pernah beberapa kali melamar ke Indah Kiat dan selalu gagal, bagaimana kalau sekarang melamar kerja lagi ke Indah Kiat, pasti diterima.”

“Perusahaan mau menerima saya?” tanya saya. “Oh, Pak Imdad, sayang sekali tawaran ini diberikan karena memandang saya saat menangani kasus limbah mereka. Apa kata orang-orang kalau saya menerimanya? Tapi saya menghargai tawaran itu. Sayangnya saya harus menolak tawaran Pak Imdad. Penghasilan saya sudah cukup dari menulis!”

Saya kemudian mengajak Anton untuk meninggalkan cafe, sedangkan Anton tampak enggan, namun dia pun terpaksa mengikuti saya berjalan menuju pintu keluar. Maka kami pun berusaha berkonsentrasi, akan pembekalan yang akan kami terima di Banjarnegara. Ada banyak pakar, yang memberikan materi berbobot, setibanya di tempat kongres. Salah seorang di antaranya, Dr. Owin Jamasy, yang menjabat sebagai Direktur Laboratorium Ilmu dan Pengkajian Pembangunan Indonesia (LIPPI) Sukabumi. Dia mengatakan: “Rekomendasi untuk penyelamatan sungai, adalah mewujudkan kesepakatan kolektif’. Yaitu adanya sebuah program berkelanjutan, yang didasari dengan 4 R: Rights (hak sungai), Responsibility (Rasa Tanggungjawab), Reuse (Daur ulang), dan Relationship (hubungan baik antara manusia dan sungai).” Maka itu, ia menekankan lebih lanjut, diperlukan pembangunan manusia, yang lebih ramah terhadap lingkungan. Jangan cuma sekedar teori saja. Karena kebanyakan yang terjadi, pada sebuah daerah kantong kemiskinan biasanya, di situ akan ditemukan pula banyak tenaga ahli.

Sejatinya, ya terus terang saja, memang itulah, yang selama ini terjadi di hilir Ciujung, terlalu banyak ahli, sementara kelimuan yang dimiliki tidak memiliki dampak sama sekali di akar rumput. Kami puas akan materi yang kami dapat di kongres, kami lalu kembali ke Desa Tengkurak, dan mulai mengaplikasikan keilmuan yang sudah kami terima. Ruwatan sungai adalah kegiatan yang akan kami selenggarakan. Kami segera melakukan lobi-lobi politik, yang bertujuan untuk mendapatkan sponsor atas kegiatan kami. Pilihan pertama adalah pihak pemerintah daerah, lalu pihak kementrian lingkungan hidup, dilanjut dengan salah seorang anggota parlemen yang, sangat antusias untuk bisa terlibat dalam kegiatan Ruwatan dengan berkata, “Menarik, kegiatan kalian bisa disinergikan dengan program dari Presiden Jokowi. Diselenggarakan bersamaan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia, yang ketujuh puluh, semua pejabat sampai tingkat nasional saya pastikan akan hadir.”

Acara itu berlangsung sukses dan semua pejabat yang diundang pun hadir, mereka semua tampak terkejut dengan warna air sungai yang hitam berbau busuk akibat limbah perusahaan. Setelah bulan-bulan yang penuh kerja keras, pengorbanan, frustasi, rasa tak berdaya untuk menerima sesuatu apa adanya: akhirnya semua orang memberi perhatian akan pekerjaan kami. Tapi beberapa hari kemudian Anton mendadak menghilang, akun medsosnya sekonyong tertutup, sehingga saya tak bisa melihat status kegiatannya, nomor ponsel pun diblokir. “Sepertinya dia masuk angin,” batin saya. Saya lalu mencari tahu dengan banyak bertanya pada teman-teman sesama aktivis. Jawaban yang saya dapat adalah, Anton sekarang bekerja sebagai staff di kantor Kelurahan Tengkurak. Saya pun menggelengkan kepala dan tidak cuma saya seorang yang kecewa akan Anton, banyak yang mengeluh terkait acara Ruwatan kemarin, saat masyarakat tidak diberi kesempatan, untuk tanya jawab dengan para pejabat, yang berkaitan saat Anton menjadi penanggungjawab dalam membuat susunan acara. Pria yang mengeluh pada saya ini, seorang pemuka masyarakat nelayan di Kecamatan Pontang, namanya Kholid. “Pabrik kertas ini memang punya daya rusak yang luar biasa, Anton pun sampai dibuat masuk angin,” katanya. “Kau jangan khawatir karena kau masih memiliki saya sebagai teman.”

Sebagai bentuk perhatiannya yang besar, Kholid menanyakan status saya. Belum menikah, itulah jawaban saya dan usia saya saat itu adalah 34 tahun. Saya kemudian disuruh menikah, supaya tidak kesepian dengan isteri yang selalu membantu, dan menghibur di saat terpuruk. Saya katakan bahwa saya tidak punya uang untuk menikah. Tidak ada wanita yang mau menikah dengan saya, yang berprofesi sebagai penulis—dengan penghasilan tak tentu. Kholid berkata untuk tidak khawatir karena ia punya wanita yang tepat untuk saya. Wanita itu adalah seorang mantan TKW (tenaga kerja wanita) di Saudi dan memiliki pendidikan keagamaan yang baik. Dia akan menerima saya apa adanya, sedangkan untuk modal pernikahan, Kholid berkeyakinan bahwa saya bisa mencarinya, karena ia tahu bahwa saya punya bekal relasi, dari basis penggemar akan karya-karya literasi saya di media massa. Maka timbullah kepercayaan diri yang kuat dari diri saya, dan saya segera berkeliling mengumpulkan uang. Ada banyak pejabat tinggi pemerintah daerah yang menyumbang untuk pernikahan saya, sehingga saya akhirnya bisa menggelar hajat pernikahan dengan meriah. Ibu saya yang semula tidak mendukung pernikahan saya, lantaran menginginkan menantu dari kalangan kelas atas, pada akhirnya hadir di pernikahan, setelah dinasihati ayah saya yang berkata, “Anak kita bisa membeli rumah dengan keahlian menulisnya dan ia sekarang bisa menikah dengan wanita pesisir dari menulis juga. Kurang apa lagi kehebatan putra kita? Dia punya potensi besar, dan dia butuh pendamping.”

Serang, 2026

 

 

 

.

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *