Dari Majapahit ke Demak hingga Palembang: Jejak Ratu Darawati, Raden Fattah, dan Arya Damar dalam Pusaran Sejarah Nusantara

Oplus_16908288

Palembang, newshanter.com – Sejarah Nusantara menyimpan banyak kisah besar yang saling terhubung, membentang dari runtuhnya Kerajaan Majapahit hingga lahirnya kekuatan Islam di Kesultanan Demak, serta jejak kekuasaan di Palembang. Di balik rangkaian peristiwa itu, tersimpan kisah penuh misteri tentang sosok perempuan penting: Ratu Darawati.

Ratu Darawati, yang diyakini berasal dari Kerajaan Champa, dikenal sebagai permaisuri Brawijaya V, raja terakhir Majapahit yang memerintah pada pertengahan abad ke-15. Dari pernikahan tersebut lahirlah Raden Fattah, tokoh sentral yang kemudian mendirikan Kesultanan Demak dan menjadi pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa.

Namun, kisah tidak berhenti di sana. Ratu Darawati juga dikaitkan dengan sosok Arya Damar, yang dikenal sebagai Adipati Palembang dari trah Majapahit. Ia memiliki berbagai nama lain seperti Ario Damar, Jaka Dilah, hingga Swan Lion—menunjukkan luasnya pengaruh dan kisah yang berkembang di masyarakat.

Setelah runtuhnya Majapahit, Brawijaya V disebut gugur di medan perang dan dimakamkan di wilayah Tuban. Dalam situasi genting tersebut, Ratu Darawati dikisahkan mengungsi ke Jombang dengan menyembunyikan identitasnya. Karena kebiasaannya mengenakan busana berwarna ungu, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Raden Ayu Ratu Kencono Wungu. Ia dipercaya dimakamkan di kawasan Makam Troloyo, salah satu situs bersejarah peninggalan Majapahit.

Sementara itu, Raden Fattah melanjutkan estafet perjuangan dengan memimpin Demak sebagai kesultanan Islam pertama di Jawa. Ia dimakamkan di area Masjid Agung Demak, yang hingga kini menjadi pusat ziarah dan simbol sejarah Islam di Nusantara.

Di sisi lain, Arya Damar tercatat wafat sekitar tahun 1514 M dan dimakamkan di Palembang. Menariknya, terdapat pula makam yang dikaitkan dengannya di wilayah Demak, memunculkan cerita unik tentang keberadaan dua lokasi pemakaman yang dipercaya masyarakat hingga saat ini.

Jejak keturunan Brawijaya V bahkan diyakini berlanjut hingga ke Hamengkubuwono I, pendiri Kesultanan Yogyakarta. Ia dikenal sebagai sosok yang memilih jalur diplomasi dengan Belanda melalui peristiwa penting, yakni Perjanjian Giyanti, yang menjadi tonggak berdirinya Kesultanan Yogyakarta.

Sementara itu, menurut sumber yang berkembang di masyarakat, setelah wafatnya Brawijaya V, sembilan putranya yang masih memeluk agama Hindu mengungsi ke Pulau Bali dan kemudian menjadi raja-raja di sana. Hal ini memperlihatkan bagaimana warisan Majapahit tetap hidup dan bertransformasi di berbagai wilayah Nusantara.

Kisah ini menjadi bagian dari mozaik panjang sejarah Indonesia—tentang runtuhnya sebuah kejayaan, lahirnya peradaban baru, serta jejak keturunan yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Antara fakta sejarah dan cerita tutur, nama-nama seperti Ratu Darawati, Raden Fattah, dan Arya Damar tetap menjadi simbol penting dalam perjalanan bangsa.

Sumber: R. H. Ahmad Sudarto Palembani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *