Premium Habis, Pertalite hadir, Rakyat Sengsara

ilutrasi

JAKARTA.Newshanter.com – Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas menyambut baik rencana PT Pertamina (Persero) untuk menggati Bahan Bakar Minyak (BBM) RON 88 dengan RON 90 yang disebut juga dengan Pertalite. Dengan penghapusan bertahap Premium RON 88 ini, diharapkan akan mempersempit ruang gerak mafia migas di Indonesia.

Menurut anggota Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Fahmi Radi, bukan tidak mungkin masih ada mafia migas yang bercokol dalam pengadaan Pertalite ini. Pasalnya, penentuan harga Pertalite ini belum 100 persen transparan dan belum ada harga yang bisa dipantau secara internasional.

“Ini kelemahan RON 90 ini, karena belum ada MOPS nya seperti RON 92. Mungkin masih ada (mafia), karena belum 100 persen transparan. Ini tahap awal, kemungkinan mafia migas masih ada akan mempermainkan harga,” ujar dia kepada Okezone, Sabtu (18/04/2015).
Untuk itu, pihaknya tetap mengusulkan agar Pertamina ke depan menstop impor BBM RON 88 secara keseluruhan dan diganti dengan RON 92 atau Pertamax. Hal ini karena RON 92 dianggap lebih transparan dari segi harga karena dapat dipantau secara internasional di Singapura.

“Jika diganti semua dengan RON 92, para mafia lama maupun mafia baru mereka engga akan bisa lagi mempermainkan harga. Kita harap kedepan semuanya benar-benar dialihkan ke RON 92, sehingga semua bisa memantau,” tutup dia.

Akal Akalan Pemerintah

Sementara itu Angggota DPR RI Ramsom Siagian, dari Partai Grendrira, silahkan Pertlite hadir, tapi jangan menghilangkan premium di SPBU-SPBU, dengan harga premium turun naik masyarakat sudah susah dan sengsara. Apa lagi premium dihilangkan.” Kami mengingatkan pemerintahan Jokowi dan JK jangan menghapus Premium,” tegasnya dalam dialog pagi TV One bertajuk Premium habis, Pertalite hadir, Senin (20/04/2015).

Dialog pagi menghadirkan tiga nara sumber, Ramson Siagian Anggota DPR RI Komisi VII.Syofiano Zakaria Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), Elvina Winda  Humas Pertamina.

Sofyano Zakaria menyatakan pergantian bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dengan diluncurkannya “pertalite” (nama BBM pengganti premium) adalah kebijakan pemerintah yang tidak prorakyat. Sebab, menurut dia, dengan beli “pertalite” maka pada dasarnya rakyat membeli premium yang sudah tidak disubsidi.

“Jika alasan pemerintah bahwa premium tidak ramah lingkungan sehingga diganti dengan pertalite, maka harus bisa dibuktikan premium telah merusak lingkungan, karena BBM itu sudah digunakan sejak puluhan tahun oleh rakyat di NKRI,” kata Sofyano.

Dikatakan Syofino , pertalite adalah BBM dengan RON 90 yang harganya akan di atas premium RON 88 dan di bawah harga pertamax RON 92. Artinya, dari sisi harga maka pertalite akan lebih mahal dari premium.

“Jika peluncuran pertalite dimaksudkan pemerintah untuk menggantikan BBM jenis premium, maka itu dapat dinilai publik sebagai ‘akal-akalannya’ pemerintah untuk menaikkan harga jual BBM sejenis premium, dan akan kembali memberatkan beban keuangan rakyat,” pungkas Sofyano.

Syofiano dalam dialog itu juga senada dengan apa yang dikatakan Ramson, primium tetap ada di SPBU, masyarakat tinggal pilih, primium, pertalite atau Pertamax. Nah,,kalau premium dihilangkan rakya semakin susah, apa pemerintah tidak sayang kepada rakyatnya,’ tegas Syofiano.

Sedangkan Elvina Winda Sagala, humas pertamina mengatakan Pertalite adalah produk baru pertamina kalau tidak ada halangan Mai 2015 sudah di pasarkan di SPBU,,hargainya diatas Rp 8,000, per-liter.(Oke zone/NHO)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *