www.newshantr.com.Kamis, 2 Februari 2017. Jarum panjang jam telah melampaui angka dua belas. Dari ruang rapat dengan deretan kursi putih dan meja kaca panjang, Griya Agung, Palembang, Alex Noerdin, Gubernur Sumatera Selatan, masih segar berbincang melalui jalur nir kabel lintas Hongkong dan New York, berselisih satu dan dua belas jam waktu.
Di seberang Hongkong ada Jim Wong, di The Big Apple New York, Amerika Serikat, ada Troy Justice dan Rushia. Mereka bertiga dari dua belahan negara itu pengurus teras National Basketball Association ( NBA), liga bola basket paling bergengsi dunia di Amerika Serikat.
Mengakhiri obrolan lintas waktu itu, Alex Noerdin tersenyum happy. Alex boleh gembira, karena Jim Wong bilang mereka siap merekrut 16 anak Sumsel di rentang usia 8-12 tahun dilatih di NBA, asalkan di dinas pendidikan di pelajaran olah raga, menyelipkan pembelajaran basket.
Bagi Alex, “Jangankan dimasukkan pelajaran, anak-anak kini sudah semangat dengan sendirinya ber-slam dunk.”
Slam dunk adalah gerakan memasukkan bola basket ke ring lawan dengan satu tangan. Umumnya jika bukan dalam pertandingan dilakukan di ring sama
Ketika melangkah menuju rumah dinas dini hari tadi , masih di dalam lingkungan Griya Agung berhalaman rumput hijau seukuran lapangan bola kaki, itu Alex berkata singkat, “Satu lagi terobosan.”
Sejak Ramadan tahun lalu, dari perjalanan berkeliling Indonesia, Alex saya simak salah satu gubernur bekerja. Agaknya bila ada ajakan kerja, kerja dan kerja dari presiden, Alex bisa menjadi model. Seperti tadi malam itu, di pukul 20, sebelum berteleconference, ia baru saja menjadi anchor live di TVRI Palembang membawa program teve terobosan mengatasi kebakaran hutan. Tanya jawab langsung dengan warga. Sehari sebelumnya, Rabu pukul 17.30, ia menjadi pembaca berita, ya pembaca berita, dalam rangka ulang tahun ke-43 TVRI. Agaknya Alex pula gubernur pertama menjadi pembaca berita televisi.
Sepekan lalu. Petang merembang. Kawasan di sekitar Masjid Raya Palembang padat. Light Rail Transpor (LRT), atau kata wong kito, disebut Sepur di Pucuk, kini pembangunan jalannya mulai tersambung. Kawasan jalan sepur melintas Sungai Musi, pondasi dan pilarnya mulai dikerjakan. “Kami optimis LRT kami selesai lebih cepat dari waktu, lebih dulu dari Jakarta,” tutur Alex, berkeringat.
Berpeluh? Iya.
Jelang magrib itu saya berada di samping Alex. Di hadapannya terhidang Martabak Har, lengkap dengan sepiring kuah kari. Martabak telur bebek – – ada juga teluar ayam – – ini cukup terkenal di Palembang. Salah satu kegemarannya. Tidak sebagaimana martabak telur di Jakarta, Martabak Har hanya mengandalkan rasa pada kuah, bukan adonan daun bawang dan daging. Bila pun ada telurnya, sang telur dibiarkan bulat kuningnya dibalut adonan tepung terigu.
Siang jelang petang hari itu, Alex berada di Ogan Ilir sekitar sejaman dari Palembang. Ia meresmikan pabrik keramik, perusahaan terbuka (Tbk) dengan industri ramah lingkungan. “Lihat tadi kan bagaimana kolam-kolam air bening, bangunan pabrik terbuka, di sekitar hijau,” katanya.
Saya nyeletuk, perihal lingkungan itu memang menarik. Tetapi tadi saya perhatikan seluruh hadirin syur menikmati pidatonya. Di hampir semua kesempatan, sebagai gubernur Alex tak pernah berpidato pakai teks yang dibaca. Ia tenang bertutur, lancar, plus presentasi video perkembangan Sumsel. Di sana-sini ia selipkan joke. Hadirin tertawa. Begitu selalu. Saya menjadi teringat akan kelimat saya kepada salah satu pemimpin negeri kita: memakai teks pidato 50% otak pindah ke kertas.
Alex memang melakukan terobosan, terutama dua hal; Olah raga dan lingkungan hidup. Pada olahraga segaimana kita ketahui Palembang tuan rumah Asian Games 2018, karena prestasinya membangun satu kawasan terpadu olahraga dalam satu kompleks di Jakabaring. “Bahkan atlit cukup jalan kaki ke setiap venue, makan pun di satu hall bisa menampung lebih 5. 000, di waktu sama,” katanya.
Saya pernah baca di status Facebook-nya, bagi Alex olahraga bukan saja menyehatkan badan, membangun sikap sportif, tetapi juga sekaligus bernilai ekonomi. Ia pernah menulis kalau Argentina, devisa keduanya pernah dari Olahraga Polo, mulai ekspor kuda Polo hingga mengirim pelatih dan arsitek lapangan Polo. Sedangkan soal lingkungan hidup banyak menjadi perhatian, pendanaan pembangunan, bantuan dunia, mengarah ke daerah yang konsen lingkungan.
Atas upaya Alex itu, ia sampai dibiayai oleh pemerintah Jerman menjadi pembicara di tingkat dunia. Ia pernah diwawancarai oleh Leonardo di Caprio ihwal lingkungan. Dan April mendatang Palembang tuan rumah Bonn Challenge 2017, event dunia membahas lingkungan, restorasi hutan . “Selama ini hanya berlangsung di negara maju dengan jalanan mengkilap, kini di Palembang,” ujarnya.
Senja di Martabak Har itu berakhir. Azan magrib tak lama berkumandang.
Ketika menyimak Alex naik ke mobilnya saya simak spirit kerja keras seorang gubernur di tengah anggaran pembangun kini kian seret. Terobosan satu ke terobosan lain dikejarnya. Lebih dari itu saya menjadi lebih happy di Palembang dibanding di Jakarta saat ini.(*)







