PALEMBANG, newshanter.com- Ahmad Yani resmi pimpin Pengurus Provinsi Indonesian Woodballl Association (I Wb A) Sumsel. Pelantikan dilaksanakan di Aula, KNPI Provinsi Sumsel, Sabtu (3/10) pagi. Turut hadir ketua umum I Wb A Pusat, Yandiono Jacky, dan beberapa pengurus KONI Sumsel.
Ahmad Yani mengatakan woodball Sumsel bersiap menatap Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jabar 2016. Meski hanya bertajuk eksebisi namun Pengprov tak main-main bersiap diri.
“Kita punya satu atlet andalan namanya Helena.Sebelumnya dalam kejurnas dia berhasil pada posisi delapan dan pernah perkuat timnas meski bukan pemain inti. Dalam PON akan diperebutkan 14 medali emas. ,” kata dia usai pelantikan.
Woodball juga akan dipertandingkan secara resmi dalam PON Ramaja II di Jateng 2017. “Mudah-mudahan cabang ini bisa berkembang, woodball ini golf murah, satu bola dan satu stik bisa dipakai seumur hidup,” kata dia.
Sementara itu Ketua Umum KONI Provinsi Sumsel, H Muddai Madang dalam sambutan yang dibacakan, ketua bidang organisasi, HMY Ishak Hasan, mengatakan betapa kehadiran I Wb A diterima dan sudah menjadi keluarga KONI Sumsel. Sebab dalam pelantikan turut hadir beberapa pengurus KONI Sumsel.
“Hanya saja ada beberapa hal yang perlu dipenuhi untuk menjadi anggota baik di nasional dan daerah. Apalagi kehadiran woodball bisa menambah medali emas untuk masa-masa mendatang,” kata dia.
Ketua Umum I Wb A Pusat, Yandiono Jacky berharap Sumsel terus kembangkan atlet woodball. “Sudah muncul sudah sangat panas di Jawa dan kalimantan samua mulai melakukan regenerasi. Bahkan kita akan melakukan kejuaraan nasional, 7-8 November nanti. Belum lama ini kita berhasil meraih medali emas kejuaraan internasional junior di Singapura padahal atlet kita masih berusia 12-14 tahun melawan atlet dibawah 20 tahun,” tambah dia.
Menurutnya awalnya kepengurusan woodball tidak diperhitungkan tingkat nasional. Bahkan KONI Pusat tidak melirik. “Kepengurusan pusat 2006-2010 tidak ada bantuan sama sekali. Namun kita jawab keraguan mereka dengan juara dunia pada tahun 2010 dan 2011. Setelah itu kita baru diakui. Sekarang kita sudah memiliki 19 kepengurusan di daerah,” tandas dia. (rilis humas KONI Sumsel)





