Palembang, newshanter.com – Dimana Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kemarin kita melaksanakan rapat untuk persiapan mengikuti pekan olahraga wilayah (Porwil) yang ke XI tahun Wilayah Sumatera.
Dimana didalam rapat tersebut kita mengundang 10 cabang olahraga (cabor) yang sudah ditetapkan sebagai cabor yang akan dipertandingkan Porwil di Riau pada tanggal 4-14 November 2023, demikian diutarakan oleh Sekretaris Umum (Sekum) KONI Sumsel Ir Suparman Romans.
Dikatakan Sekum KONI Sumsel Ir Suparman Romans, banyak hal yang kita bahas tadi yang pertama adalah tentang kesiapan dan pemetaan kekuatan prestasi atlet provinsi Sumsel dengan provinsi-provinsi lain yang ada di Sumatera ini.
Ada catatan juga karena Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh sudah otomatis menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) dan sudah mendapat Wild Card untuk seluruh cabor yang lolos untuk lolos PON.
“Maka nanti kita akan menanyakan bagaimana tentang perolehan medali di Porwil ini, apakah perolehan medali Sumut dan Aceh tetap dihitung atau tidak dihitung,” ujarnya.
Kemudian, karena mendapat informasi mereka tetap ikut partisipasi katanya, supaya Porwil ini tetap meriah, semangat, serta punya kualitas. Dimana untuk 10.cabor tersebut diantaranya atletik, catur, bola tangan, Wushu, dan sebagainya, dan ada yang baru yakni Barongsai dan E-Sport.
Ini masih kita inventarisir tergantung nanti dari kesiapan, dimana cabor-cabor lagi sedang melakukan seleksi internal. Nanti di nomer apa yang kita punya peluang, dan kita harus efisien, kalau yang tidak berpeluang barang kali kita tidak kirim.
“Dimana kendala kita sekarang adalah masalah anggaran, dikarenakan anggaran Porwil ini belum teralokasi, kita baru mengalokasi anggaran untuk persiapan administrasi belum yang sifatnya teknis,” ungkapnya.
Dilanjutkannya, dimana untuk kebutuhan pelatda, technical clinic (tc), mungkin ada tryout, termasuk bagaimana untuk memberangkatkan, akomodasinya, konsumsinya, uang sakunya, dan banyak yang kita butuhkan. Dimana tadi sudah diprediksikan lebih kurang kita butuh 5 Miliyar untuk memberangkatkan kontingen 10 cabor ini ke Riau.
Untuk atletnya sendiri belum kita prediksi berapa, sebenarnya sudah tersedia masing-masing itu sudah siap atletnya sudah ada, tapi kita kan perlu prestasi bukan hanya sekedar mengirim, sekedar berangkat, dan hanya meramaikan pertandingan saja.
“Tapi kita ingin tuntutannya adalah prestasi, kita akan seleksi lagi dari atlet-atlet yang disiapkan oleh cabor ini berapa atlet yang fix yang bisa kita berangkatkan, dan sekarang masih berjalan, mereka masih latihan terus,” katanya.
Masih dilanjutkannya, mungkin ada beberapa atlet-atlet senior tapi masih memungkinkan untuk turun pada PON, tapi ada juga atlet-atlet yang baru, yang memang mereka ini baru kali ini ikut Porwil. Makanya tergantung dari hasil seleksi kita, atau hasil pemantauan kita, apakah atlet-atlet ini mempunyai prospek meraih medali atau tidak.
Untuk usianya sendiri adalah usia yang standar yang akan diberlakukan di PON, bukan pembinaan tapi ini merupakan prestasi. Tentu persiapan fisik, mental, kemudian juga secara fisiologis meskipun mereka belum mendapat suatu pun dari pembinaan ini masalah kesejahteraan.
“Kita berharap ini masing-masing ketua Cabor bisa memberikan pengertian dan pemahaman kepada para atlet, bahwa memang kita belum ada ketersediaan dana untuk Porwil ini, tapi kita tidak boleh stagnan,” imbuhnya.
Masih disampaikannya, dimana kita harus mempersiapkan diri dengan segala daya dan kemampuan yang ada, mudah-mudahan ini juga nanti menjadi dasar. Serta kita berharap kepada pemerintah provinsi dapat memberikan atensi secara khusus karena menyangkut masalah Prestasi Sumsel.
Dimana kita akan mengajukan kepada pemprov Sumsel dalam hal ini Gubernur Sumsel H Herman Deru melalui Dinas Pemuda dan Olahraga provinsi Sumsel. Dimana masukan dan harapan kepada KONI Sumsel yakni anggaran, kepastian anggaran, masalah kelengkapan-kelengkapan lain, dan masalah fasilitas untuk latihan TC.
“Dimana mereka minta kalau bisa di Jakabaring Sport City (JSC) itu bisa segera di akses supaya mereka bisa TC disana. Kemudian tryout, karena mereka ini kalau pelatihan cukup itu kata mereka, tapi porsi untuk bertanding yang kurang atau kompetisi kurang, dan mungkin mereka berharap ada alokasi anggaran untuk tryout,” tutupnya.(ton)





