Palembang, newshanter.com – Kondisi kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan mendapat perhatian dari pegiat media online dan media sosial, Danial Yuliandik.
Danial meminta pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi dan perlindungan masyarakat, terutama ketika kualitas udara memburuk dan aktivitas warga mulai terdampak.
Menurut Danial, karhutla tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga mobilitas masyarakat.
“Persoalan karhutla tidak boleh hanya dilihat sebagai masalah pemadaman api. Ketika asap sudah mengganggu aktivitas masyarakat, pemerintah harus memastikan perlindungan terhadap warga menjadi prioritas,” ujar Danial dalam pernyataannya.
Dampak terhadap Kesehatan Masyarakat
Danial menyoroti risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Ia meminta pemerintah memastikan fasilitas kesehatan siap menghadapi kemungkinan meningkatnya keluhan masyarakat yang berkaitan dengan kualitas udara.
Selain pelayanan kesehatan, menurutnya, masyarakat di wilayah terdampak juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai kondisi kualitas udara, penggunaan masker yang sesuai, serta langkah-langkah untuk mengurangi paparan asap.
“Pemerintah perlu memastikan informasi mengenai kondisi udara dan langkah perlindungan masyarakat disampaikan secara terbuka dan mudah dipahami,” katanya.
Aktivitas Ekonomi Ikut Terdampak
Selain kesehatan, Danial menyebut kabut asap dapat berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Penurunan jarak pandang dapat mengganggu mobilitas kendaraan. Pada saat yang sama, masyarakat yang bekerja di ruang terbuka berpotensi mengurangi aktivitas akibat kondisi udara yang tidak mendukung.
Karena itu, ia mendorong pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman titik api, tetapi juga melakukan pemetaan terhadap dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Soroti Keselamatan Pengguna Jalan
Danial juga meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan di sejumlah ruas jalan yang berpotensi terdampak kabut asap.
Menurutnya, jarak pandang yang menurun dapat meningkatkan risiko kecelakaan apabila tidak diantisipasi dengan pengaturan lalu lintas dan informasi peringatan dini.
“Keselamatan pengguna jalan harus menjadi perhatian. Jika jarak pandang menurun akibat asap, perlu ada langkah antisipasi seperti rambu peringatan, pengaturan lalu lintas, dan koordinasi dengan aparat di lapangan,” ujarnya.
Minta Pengawasan terhadap Perusahaan Diperkuat
Di sisi lain, Danial meminta pengawasan terhadap aktivitas perusahaan yang berada di wilayah rawan karhutla dilakukan secara transparan.
Menurutnya, apabila terdapat titik kebakaran yang berada di dalam atau sekitar wilayah konsesi perusahaan, pemerintah dan aparat penegak hukum perlu melakukan pemeriksaan berdasarkan bukti dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Kalau memang ditemukan pelanggaran, tentu harus ada tindakan sesuai aturan. Tetapi prosesnya juga harus berdasarkan hasil pemeriksaan dan bukti yang jelas,” kata Danial.
Empat Langkah yang Didorong
Danial menyampaikan sejumlah langkah yang menurutnya perlu diperkuat pemerintah Sumatera Selatan dalam menghadapi dampak karhutla.
Pertama, meningkatkan perlindungan dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Kedua, memperkuat pemantauan kualitas udara dan menyampaikan informasi secara terbuka kepada masyarakat.
Ketiga, meningkatkan pengamanan serta rekayasa lalu lintas pada ruas jalan yang mengalami gangguan jarak pandang akibat asap.
Keempat, memperkuat pengawasan terhadap sumber titik api, termasuk melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas perusahaan maupun masyarakat apabila ditemukan indikasi pelanggaran.
Danial menilai penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, TNI-Polri, pemadam kebakaran, sektor kesehatan, perusahaan, hingga masyarakat.
“Yang paling penting adalah keselamatan masyarakat. Penanganan karhutla harus dilakukan secara cepat, terukur, transparan, dan berkelanjutan, bukan hanya ketika asap sudah menjadi perhatian publik,” pungkasnya. (*)





